Menu
Results for "Info Akhwat"
Cahaya Akhwat

Menelisik psikologis perempuan melalui ayat-ayat Al-Qur’an



Foto dari PicsArt

Di dunia maya sempat viral berita seorang ibu yang menggorok anak-anaknya. Atas kasus ini, ada yang membela dan menyalahkan. 


Ya, memang menggorok anak untuk seorang ibu seperti sebuah kemustahilan. Seorang ibu sanggup melakukan, patut dicurigai kalau dia memiliki gangguan jiwa. Dan mengapa dia sampai mengalami gangguan? Pastilah banyak yang harus diusut, baik  latar belakang lingkungan dia lahir dan dibesarkan, juga akhirnya menikah dengan siapa. Sampai di sini, yang paling sering patut diminta pertanggung jawaban adalah suaminya. 


Dalam kasus masing-masing mengemukakan pendapatnya, bahkan ajaran Islam pun disangkut pautkan. Yang disayangkan, terjadi perdebatan, dengan ada berpendapat bahwa tindakan itu menunjukkan tanpanya ada iman dan ilmu. Di sisi lain, ada mendebat, apa hubungan psikologis dengan iman?


So, aku di sini tidak ingin membahas itu. Aku hanya mengurai sedikit psikologis perempuan yang diambail dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dan itu pun tentunya, hanyalah sedikit. 


🖍️ Zulaikha


Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Yusuf: 23)


Ayat ini menceritakan seorang perempuan bernama Zulaikha yang tergila-gila kepada pembantunya sendiri, Yusuf as. Yang mana dikatakan, Yusuf memang sangat tampan dan pada saat usia ibarat bunga saatnya sedang mekar. 


Yusuf memang tampan, tapi Zulaikha juga bukan perempuan bodoh yang tergila-gila hanya karena fisik. Zulaikha seorang istri pejabat, tentu bukanlah sembarang perempuan yang pantas mendampingi seorang pejabat. Jadi tidak mungkin akalnya tumbang hanya karena seorang pembantu. 


Mungkin saja. Seperti yang dikatakan banyak orang, "cinta itu buta."


Namun yang kita dapatkan di sini, perempuan itu mempunyai sifat “ekstrim’ perasaan entah positif atau negatif jika sudah tertuju pada satu objek. 


Contohnya Zulaikha yang tergila-gila dengan Yusuf. Atau Istri Abu lahab yang sangat membenci Rasulullah, waktunya habis hanya untuk menyebarkan fitnah. Padahal juga, Abu Lahab seorang pemuka Quraisy, tentu istrinya juga buka kaleng-kaleng. Namun begitulah, kadang perempuan memiliki perasaan yang sulit dikendalikan. 


Penomena sekarang banyak terjadi, seperti perempuan yang tergila-gila dengan laki orang. Di antara sekian yang menjadi istri kedua atau selanjutnya, pasti ada terjadinya pertarungan batin. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Baik itu nafkah, anak-anak, status yang kadang tidak terdaftar, gunjingan orang-orang dan lain sebagainya. Namuni begitulah, ketika keinginan kuat, kadang mengalahkan seribu logika. 


Karena itu, jangan heran jika ada perempuan mengalami kekerasan dan kezaliman dalam rumah tangganya, tetapi masih saja bertahan. Kita sebagai penonton, pingin rasa ngumpat dengan mengatakan, "kamu itu bod*h." 


Kita menilai begitu, karena kita tidak memiliki perasaan sedalam itu.



Kita berlindung kepada Allah dari perasaan seperti ini. 


Kabar baiknya, jika perasaan ekstrim tercurah pada keluarga dan anak-anaknya. Tak heran jika kita melihat banyak perempuan sanggup bekerja keras demi keluarga, padahal pekerjaan rumah saja sudah cukup membuat lelah. Tak heran, jika ada seorang ibu mengorbankan nyawanya untuk anak-anaknya. 


🖍️Maryam


“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam:23)


Pada kasus viral seorang ibu yang mencelakai anak-anaknya, ayat ini juga lewat di beranda sosmed. Padahal kasus ini  tidak bisa disandarkan pada cerita Maryam. 


Maryam perempuan salehah saja sampai berpikir begitu, bagaimana dengan kita wanita biasa? Mungkin begitulah kira-kira pikiran kita. Jangan samakan kasus Maryam dengan kasus zaman now. 


Pertama : Maryam hanya berandai ingin mati, bukan mencelakai anaknya. Seperti apapun gunjingan yang ia terima, kemiskinan yang terus saja mendera dalam membesarkan anak seorang diri, lapar tanpa suami dan keluarga, lapar menjadi keseharian mereka, tetapi tidak sedikit pun Maryam berpikir membunuh anaknya.


Memang ada situasi perempuan yang merasa ingin rasanya mati, pingsan sejenak, ingin waktu berhenti, atau menelan obat tidur. 


Itu memang benar, ada saatnya perempuan berpikir begitu karena sifat manusia yang mempunyai keterbatasan. Tapi bukan ingin mencelakakan keluarganya. Apalagi jika dilihat dari ayat di atas (ayat Zulaikha), justru seharusnya anak-anak membuatnya terus bertahan, dan berjuang. Jadi kasus mencelakai anak itu sudah bertolak belakang dari sifat perempuan yang memiliki perasaan cinta yang luar biasa. 


Kedua : perasaan ingin mati Maryam karena memikirkan Marwah dan agama. Apa pendapat orang lain, dirinya yang menjaga mihrab hamil? Ketakutan yang sangat sulit dibayangkan. Perempuan salehah hamil? Apa bakal kata orang-orang? Jadi  bukan karena takut kelaparan. 


Ketiga: jangan menjadikan tolak ukur menjadi pembenaran. Wanita salehah saja, berbuat begitu bagaimana dengan kita? 


Ujian yang diterima Maryam, tidak ada seorangpun menimpa perempuan di dunia selain dia. Tentu tidak bisa disamakan dengan ujian yang kita terima. Selain itu, jika kita mundur ke belakang. Sebenarnya, saat Jibril masuk ke mihram dia, saat itu iman Maryam telah turun. Akibat kabar yang dia dengar bertentangan dengan fakta dan logika. Di situ ujian Maryam bermula, dan ia gagal. 


Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)


Maryam yang selalu melihat mukjizat dari Allah berupa makanan yang selalu ada, bagaimana bisa berkata begitu? Ya wajar, karena dia manusia. Memang benar, tapi di situlah, titik awal kadar kesalehan dia menjadi seperti manusia umumnya. Makanan yang biasa selalu tersedia, kini tidak muncul lagi. Sejak itulah dia harus berusaha untuk menghidupi dirinya. Bahkan berat hidupnya lebih besar daripada manusia umumnya. Begitulah, satu kesalahan yang dibuat orang saleh, konsekuensi yang diterima kadang lebih berat pada orang umumnya.


Coba bayangkan, bagaimana mungkin seorang perempuan habis melahirkan harus menggoyang pohon sebesar kurma? Sebesar apa kurma yang digoyang Maryam, Allahu a’lam. 


Mungkin saja, ada bantuan malaikat di balik itu. Mungkin saja Allah menyuruh menggoyang pohon kurma, hanya untuk mengajarkan dia berikhtiar. Allahu a'lam.


Maryam saat itu sudah seperti perempuan pada umumnya. Beruntungnya, kesalehan dia masih luar biasa, sehingga masih mendapatkan bimbingan Allah dalam menapaki hidupnya. 



🖍️Bunda Musa


"Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). (QS. Al-Qashah: 10)



Ibu manapun pasti akan berteriak jika melihat bayi imut yang baru saja dilahirkan mengapung di sungai. 


Dengan bantuan Allah, dia mempunyai kekuatan menahan diri, meski di ujung batas ketahanan.  



Sebagai manusia biasa, adakalanya kita mengalami situasi yang ingin rasanya berteriak. Rumah berantakan, cucian menumpuk, suaminya bisanya menuntut, anak-anak ribut, belum lagi masalah di luar seperti masalah bisnis atau lainnya. 


Di situasi seperti ini, yang sering jadi korban pelampiasan adalah anak-anak karena mereka lemah dan paling dekat. 


🖍️Istri Abu Lahab



"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). (QS. Al-Lahab: 4)


Kisah istri Abu Lahab telah disinggung di atas. Bagaimana mungkin seorang istri pemuka menghabiskan waktunya hanya untuk menyebarkan fitnah?


Begitulah perempuan, mempunyai sifat yang luar biasa. Jika cinta, sangat cinta. Jika benci, sangat benci. Mereka sanggup berkorban harta dan nyawa demi cinta atau bencinya. 


Beruntung jika yang memegang sifat ini wanita salehah, seperti Khadijah r.ha yang menghabiskan hartanya untuk agama Allah. Ummu Syarik tidak takut mati, demi menyebarkan agama Allah. Atau istri Fir’aun yang tidak takut mati demi sebuah keyakinan. 



🖍️Orang tidak mengenal Allah


“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah:19-20)



Ayat ini sebenarnya menyinggung orang-orang kafir. Pelajaran yang dapat kita ambil, begitulah situasi jiwa seseorang jika tidak mengingat apalagi tidak mengenal Allah. 


Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat.


Masalah bertubi-tubi seperti hujan deras ditambah, gelap, petir dan kilat. 


Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati.


Ketakutan membuat penderitaan semakin lengkap. Takut miskin, ditinggalkan, mati dan banyak ketakutan yang bahkan tidak jelas asal usulnya. Awal covid, orang-orang berebut bahan makanan, masker dan bahan pokok lainnya, karena takut kelaparan. Minyak goreng mahal, kita juga diserang takut karena biaya hidup semakin membengkak. 


Berita tabung gas 3kilo meledak entah darimana, takutnya se-Indonesia. Begitulah kita. Sifat ketakutan inilah yang kadang dimanfaatkan oleh segelintir dengan menciptakan dan menggiring kepada suatu opini. 


Bukankah ketakutan suatu yang semestinya, untuk melindungi diri? Memang ketakutan harus ada, tetapi tidak seharusnya rasa itu menguasai kita, apalagi sampai melakukan kegilaan dan  merugikan orang lain.


Setiap kali (kilat itu) menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. 


Pada dasarnya, segala sesuatu itu kehendak Allah. Berhasil tidaknya pada suatu usaha, itu atas kehendak Allah. Kita hanya berusaha, Allah yang menentukan. 


Bagi kita muslim atau orang yang begitu mudah mengingat Allah, mereka akan mengelola pikiran juga perasaan.


Jika kena musibah atau gagal, akan sadar bahwa ini atas kehendak Allah. Kesadaran ini, akan ciptakan hati lebih lapang, ikhlas, lalu lagi dan lagi berharap serta berusaha.


Beda dengan orang yang tidak kenal Allah, ketika gagal mereka syok, depresi dan putus asa. Beruntung, jika situasi ini ada keluarga atau teman terdekat. Jika tidak? 


*** 

Lanjut hal 2 --->>



Menelisik psikologis perempuan melalui ayat-ayat Al-Qur’an Foto dari PicsArt Di dunia maya sempat viral berita seorang ibu yang menggorok an...
El Nurien
Cahaya Akhwat


Wanita Bercadar. 

Wanita pada dasarnya sudah menarik perhatian, bahkan jika ngga pintar-pintar menjaga diri seorang wanita dapat menjadi fitnah. Baik itu wanita yang belum menutup aurat, sudah berhijab, pun wanita bercadar.

Bagi wanita bercadar, sebuah keistiqomahan bukanlah sebuah kemustahilan. Tapi bukan pula sebuah jalan lurus yang bebas hambatan. Ada saja cobaannya. Untuk wanita bercadar, biasanya ada saja hal yang bisa dijadikan perhatian. Sayangnya hal yang diperhatikan bukan semuanya hal positif, banyak hal negatif hingga hal yang bersifat atau dibuat ambigu.

Keistiqomahan wanita bercadar kerap mendapat ujian. Bukan hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Contohnya saja seperti saat ini sedang ramai berita seorang wanita bercadar dengan peliharaannya. Coba deh gugling kata kunci "Wanita Bercadar" pasti berita tentang wanita itu terpampang nyata secara paripurna. 

Demi apa coba saya bahas ini? Ya karena saya blogger, jadi sering cek kata kunci. Kalau kata kunci itu berhasil menarik berita-berita yang ambigu, atau berita-berita buruk. Tau dong efeknya seperti apa? Efeknya adalah kebimbangan akan hukum islam bagi yang membaca. Bahkan bisa jadi menjelekkan islam sendiri. Karena apa? Tentu saja karena cadar saat ini adalah salah satu simbol islam.



Selain itu, setelah saya telusuri berita itu teramat tidak berimbang. Terutama dalam ajaran islam. 

Biasanya mereka mengutip hadist berikut ini:
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.”
(HR. Muslim no. 2245).

Hadist itu sama sekali tidak mencantumkan makna memelihara. Tapi hanya memberi minum pada seekor anjing.

Kalau mau lebih jelas tentang hukum memelihara anjing, kita bisa melihat dari hadis berikut.

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ ، نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ

“Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.”
(HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)
Dua qiroth: DUA GUNUNG UHUD.

Pahala amalannya berkurang setiap hari. Jadi apa artinya? Rugi. Iya, R U G I.
Apakah kita mau menjadi orang yang merugi? Naudzubillah.

Berada di posisi menutup aurat secara sempurna memang ngga gampang sama sekali. Harus lebih waspada, karena pada dasarnya wanita bercadar adalah wanita biasa tempat salah dan lupa. Tapi bukan berarti berhenti belajar begitu saja. 

Sebagai muslimah, yaitu wanita beragama islam. Baik itu yang bercadar atau belum, kita wajib menjaga maruah. Teruslah cari tau, belajar lagi, bagaimana ibadah kita, apa saja hal-hal yang udah diatur dalam agama kita. Apakah hari-hari yang dilalui sudah syar'i? Baik itu tingkah laku, pekerjaan, dan semua tindakan yang kita jalani. 


Semoga kita selalu dibimbing Allah SWT dalam menjalankan syariat-Nya hingga ajal menjemput nanti.

Wanita Bercadar.  Wanita pada dasarnya sudah menarik perhatian, bahkan jika ngga pintar-pintar menjaga diri seorang wanita dapat men...
ahliah citra
Cahaya Akhwat


Niqabis


Dua hari ini timeline saya sedang ramai dengan video promosi film yang diangkat dari sebuah novel fenomenal. Novel dan film itu memang selalu sukses di dunianya.

Dalam video promosi film itu, terdapat bagian di mana ada empat orang wanita berabaya hitam lengkap dengan niqab yang berdiri di panggung. Lalu para penonton diminta menebak, wanita mana yang berperan dalam film itu. Dan pada bagian terakhir dua wanita berniqab itu membuka niqab yang mereka pakai.

Bisa diduga bagaimana reaksi netizen akan viralnya video tersebut?

Sebagai seorang wanita bercadar, yup..., saya shock. Pasti teman-teman yang lain pun seperti itu juga.

Cadar atau niqab, memanglah hanya selembar kain yang digunakan untuk menutup wajah. Tapi percayalah, ngga gampang untuk memakainya. Apalagi secara istiqomah. Berat, Buuuu.... percaya deh.

Untuk masalah cadar memang ada perbedaan pendapat, ada yang bilang wajib dan ada juga yang bilang sunnah. Semua pun memiliki dalil masing-masing. Jadi baca ini ngga usah pakai debat yah. Kita piss piss ajah bahasnya.

Hukum memakai cadar dalam pandangan 4 mahzab

Seperti kasus akhwat bercadar pajang foto di medsos. Sampai sekarang juga masih sering bikin ribut kan yah? Ada yang beralasan dakwah agar cadar ngga dianggap aneh dan bisa diterima oleh masyarakat. Tapi ada juga yang keukeuh ikut pendapat ngga boleh pajang foto, sebenernya ini mah buat semuanya yah, bukan cuma akhwat bercadar aja yang ngga boleh pajang foto kan?

Baidewei, alhamdulillaah di Indonesia ngga terlalu sulit memakai cadar. Walau pun yah kadang masih ada hal-hal yang ngga mendukung buat perempuan bercadar. Contoh paling gampang yang sering saya temui adalah masjid yang tempat wudhunya masih gabung antara laki-laki dan perempuan dan juga hijab pemisah tempat sholatnya hanya sebatas dada jadinya masih keliatan tuh sama laki-laki kalau kita lagi sholat. Jadi saya harus mencari masjid yang benar-benar bersahabat dengan niqabis.

Balik lagi ke soal video tadi. Saya sebagai wanita yang memakai cadar saat keluar rumah, untuk sholat saja saya pilih-pilih agar aurat saya tetap terjaga agar ngga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram. Lalu membuka cadar di atas panggung? 

Ya memang menurut klarifikasi yang telah dibuat oleh MC acara itu, bahwa wanita-wanita berniqab itu diperan oleh Usher atau SPG yang pada dasarnya ngga bercadar bahkan ngga berjilbab. Tapi bukan itu kan poinnya? Poin yang ditangkap dari acara itu adalah, wanita bercadar bisa dengan mudah membuka cadarnya di depan umum.

Perlu diketahui yah, bagi wanita yang sudah bercadar atau berniqab, kebanyakan dari mereka berpegang pada pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat. Jika para hijaber berpegang pada hijab lebarnya ngga akan pernah dibuka di hadapan laki-laki yang bukan mahram, maka begitu pun kami. Ngga akan memperlihatkan wajah pada laki-laki yang bukan mahram. Beda dengan wanita yang menganggap bercadar itu sunnah. Saya pernah baca ada istilah wanita setengah bercadar. Yang artinya, ada saatnya dia bercadar dan ada saatnya juga dia ngga pakai cadar. 

Jadi ngga masalah dong buka cadar di depan umum? Kan ada yang bilang hukumnya sunnah juga, jadi kenapa harus marah? 
Itu kan kalau yang berpendapat sunnah. Kalau yang berpendapat hukumnya wajib? Ya jelas marah lah. 

Tapi ya balik lagi ke masalah pemahaman. Seperti yang ditulis aktris pemeran utama di film itu, dalam klarifikasi di IG nya, Mba Cantik itu bilang, kalau memang kurang pemahaman tentang hukum niqab atau cadar.

Semoga para muslimah yang berdakwah lewat media hiburan bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk mempelajari hukum-hukum agama yang dianutnya. Ngga cuma ikut skrip, ngga cuma nurut sama EO atau pun PH. Bahkan kalau bisa, kalau melihat ada yang ngga sesuai dengan kaidah agama, ya diluruskan. Supaya ngga terlanjur melukai perasaan umat.

Soalnya kejadian kaya gini ngga cuma sekali, hukum islam di eksploitasi untuk menarik penonton, menaikan rating kalau ada masalah ya cuma artisnya yang jadi bantalan. 

Tapi ya sudahlah. Sebagai akhwat dan juga sesama muslim, jika ada yang meminta maaf maka wajib hukumnya bagi kita untuk memaafkan. Jangan larut dalam luka. Jangan lanjut menghujat. Jangan terus-terusan membalas dengan lebih menyakiti. 

Jadi sebaiknya maafkanlah. Jadikan kejadian ini sebagai ujian kenaikan iman, buat semuanya. Terutama buat diri kita sendiri. Bagaimana caranya agar niqab ngga kehilangan maknanya. Ini PR buat kita semua para muslimah.


Antara Niqab, Kelakuan dan Hati Yang Saling Memaafkan Dua hari ini timeline saya sedang ramai dengan video promosi film yang dia...
ahliah citra
Cahaya Akhwat



Pada umumnya, wanita itu memiliki berkarakter pemalu, dan perasaannya sangat halus. Akan tetapi,  banyak wanita yang kehilangan sifat malunya disebabkan pengaruh suasana lingkungan dan pergaulan. 

Namun malu yang maksudkan di sini adalah malu bermaksiat kepada Allah. Dan muslimah yang senantiasa berusaha dalam naungan cahaya hidayah dan iman, sifat malunya akan menjelma dengan cara yang memesona. Semakin kuat iman dan semakin paham ajaran Islam, perasaannya semakin peka dan semakin malu melakukan hal-hal buruk dan maksiat. Sehingga ia akan berpikir dan menimbang jika ingin berbuat dan berkata sesuatu. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam contoh teladan yang sempurna dalam memiliki sifat malu, seperti yang dikatakan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah sangat pemalu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan. Apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami melihatnya dari wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malu juga merupakan salah satu cabang iman.
“Iman itu terdiri dari tujuh puluh satu sampai tujuh puluh sembilan, atau eman puluh satu sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘laa ilaaha illallah,’ dan yang paling bawah adalah menyingkirkan penyakit dari jalanan, dan malu itu adalah cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Putri Syuaib adalah salah satu contoh pesona perempuan salehah. Kecantikan yang diperlihatkan putri Syuaib, kelak diabadikan dalam Al-Qur’an.

 “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesugguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan, sebagai imbalan atas (kebaikan)mu, memberi minum ternak kami. …” (QS. Al-Qashash: 25)

Malu putri Syuaib bukanlah malu tersipu seorang wanita kepada laki-laki, tetapi ia malu kepada Allah karena harus mendekati seorang laki-laki yang bukan mahram dan asing. 

Muslimah yang menghiasi dirinya dengan sifat malu ini, tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan wanita Barat yang sudah tidak memiliki rasa malu sedikit. Hiasilah diri dengan sifat malu karena sifat ini merupakan pesona tesendiri dan ciri khas muslimah yang senantiasa mereguk cahaya iman dan ilmu ajaran-ajaran Islam.

“Malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim)



  Pada umumnya, wanita itu memiliki berkarakter pemalu, dan perasaannya sangat halus. Akan tetapi,  banyak wanita yang kehilang...
El Nurien
Cahaya Akhwat


بسم الله الر حمن الرحيم
Mungkin kamu yang berjilbab, pernah mendengar kata-kata,  “Waah, rambutnya bagus ya! Sayang sekali ditutupi!” Atau bagi kamu yang bercadar pernah dengar.  “Wah, ternyata cantik yaa.”
Aku jadi berpikir, cantik itu untuk siapa? 
Setiap orang senang dengan cantik, bahkan kita umat muslim pun disuruh cantik. Tapi dengan menjaga kecantikan sesuai koridor agama tentunya.
Hampir semua perempuan suka bercantik diri (walau sebagian ada perempuan yang memang tidak peduli dengan penampilan). Jauh untuk siapa, cantik memang membuat nyaman dipandang, bahkan diri kita sendiri pun senang melihat kalau keadaan kita nyaman dipandang. 

Cantik dan berhias adalah fitrah perempuan. Namun kadang sangat disayangkan, kecantikannya untuk dipamerkan,  bukan  utuk yang berhak memandangnya, dan cantiknya kadang sudah jauh dari nilai-nilai agama.

Berhias untuk suami, memang dianjurkan dalam agama. Akan tetapi, tentu penampilan cantik tersebut jangan sampai dibawa keluar rumah, meski niatnya untuk suami. 

Cantik untuk pacar atau tunangan? Ini tidak dibolehkan untuk agama.  
Fitrah lainnya dari perempuan adalah suka diperhatikan. Dan salah satu alat perempuan agar diperhatikan adalah cantik. 

“Dunia seluruh isinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah.” (HR. Muslim. dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

Wahai sekalian wanita, sesungguhnya yang paling baik di antara kalian akan memasuki surga sebelum orang yang paling di kalangan lelaki. Mereka akan mandi, dan memakai minyak wangi dan menyambut suami-suami mereka di atas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka anak-anak kecil, mereka seperti batu permata yang berkeliauan.” (HR.Abu Syaeh, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

Dan agama pun menghormati fitrah ini, bahkan akan mendapatkan pahala jika disalurkan kepada yang halal.
 Apabila engkau mempunyai suami, dan engkau mampu melembutkan kedua bulu matamu dan membuatnya lebih baik, maka lakukanlah.” (Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

“Tidaklah seorang mu’min lebih mengambil manfaat setelah ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala yang baik baginya, dari pada isteri yang shalehah. Jika diperintah, maka ia taat. Jika suaminya melihatnya akan menyenangkannya. Jika suaminya bersumpah, maka ia akan menunaikannya. Dan jika suaminya tidak ada, maka ia akan menjaga dirinya dan hartanya.”  (HR. Ibnu Majah)

Kecantikan adalah anugerah Allah kepada wanita, sekaligus ujian yang besar buat wanita. Tak jarang wanita habis-habisan mengeluarkan dana agar tetap cantik atau lebih cantik.
Agama tak melarang hal ini, bahkan kita pun disuruh merawat nikmat yang Allah berikan.

“Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (pengaruh) nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi, Hakim)

“Barang siapa yang memilik rambut, maka hendaklah ia menghormatinya.” (HR. Abu Dawud)
“Apabila seseorang keluar mendatangi saudaranya, maka hendaklah ia mempersiapkan diri, karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” (Imam Qurthubi)

Namun sangat disayangkan, tidak sedikit perempuan berani melakukan hal-hal yang dilarang agama demi sebuah kecantikan.
Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian dan melewati kumpulan orang-orang sehingga mereka mencium bau harumnya, maka dia adalah penzina.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, Hakim)

Dari Abdillah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah saw melaknat wanita yang mencabut bulu alisnya dan merenggangkan agar kelihatan cantik  dengan merubah ciptaan Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. An-Nasa’i)
Untuk apa arti sebuah kecantikan dan seluruh dunia memujinya, kalau akhirnya kita mendapatkan murka Allah?
Alangkah beruntungnya seorang wanita yang dengan kecantikan mampu meraih redha Allah. Mampu menyenangkan hati suami dan membuat betah di rumah. Dan dengan sifat amanah yang ia miliki, suami tak khawatir meninggalkannya ketika bepergian.

Namun, alangkah malangnya seorang wanita karena kecantikan membuat ia terjerumus ke neraka (na’udzubillah,) bahkan kadang dengan menjerumuskan orang lain. Berapa banyak laki-laki berdosa karena melihat lengkok tubuh yang duhai dan wajah rupa yang rupawan. Berapa banyak suami-suami yang semakin terjerat dalam dunia hutang (bahkan mungkin kuropsi)  demi memenuhi kebutuhan kecantikan istrinya.
Raihlah cantik dengan tetap berjalan di atas koridor agama. Peliharalah kecantikan fisik dengan diimbangi memelihara kecantikan hati dan akhlak. 

Syukuri anugerah Allah dengan menambah ketaatan kepadaNya.
Insya Allah, dengan rahmat Allah, kita bisa lebih cantik di surganya Allah.  Menjadi ratu bidadari dengan mendampingi orang yang kita cintai di dunia.

بسم الله الر حمن الرحيم Mungkin kamu yang berjilbab, pernah mendengar kata-kata,   “Waah, rambutnya bagus ya! Sayang sekali ditutupi!...
El Nurien
Cahaya Akhwat






Semua manusia suka keindahan, termasuk memakai pakaian yang indah. Bahkan agama pun menyuruh memakai pakaian yang indah, yang mencerminkan  jati diri seorang muslim yang suka bersih dan keindahan.

Semua suka keindahan, namun ukuran standar keindahan itu relatif. Setiap manusia mempunyai sudut pandang dan kultur yang berbeda. Sehingga kita tak bisa memaksakan diri kepada menurut pandangan orang lain, dan kita tak bisa mencapai kesepakatan orang banyak, apa yang menurut kita itu indah.

 Di Indonesia dengan kebayanya, di India dengan sarinya, di Jepang dengan kimononya.  Terlalu sulit, jikalau kita orang Indonesia memaksakan diri dalam kesehariannya memakai sari atau pun kimono, begitu juga sebaliknya.

Selain itu,  ‘keindahan’   dari masa kemasa selalu mengalami perubahan. Sulit bagiku mengingat perederan mode pakaian. Jaman remajaku dulu, gaya dengan kaos dilengkapi dengan rok panjang. Rambut terurai panjang. Belum habis masa remaja sudah terjadi perubahan. Beda lagi dengan mode remaja sekarang.

Tak lepas dari pula, phenomena hijab pun masih berkaitan erat dengan namanya ‘keindahan’
Kita sebagai seorang muslimah yang menyukai keindahan maka nilai ‘keindahan’ itu harus kita sandarkan pada agama. Jauhilah jika menurut kita itu ‘indah’ namun menurut agama itu jelek dan membawa mudharat. Sebaliknya  pakailah ‘indah’ menurut agama, walaupun selera kita masih belum bisa menyukainya. Dengan keistiqamahan, insya Allah, Allah akan sisipkan ‘keindahan’ itu di hati kita, hingga kita pun menyukainya.

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam memakai  hijab dan ‘keindahan’ dalam diri kita
1.      Tidak bertabarruj
2.      Tidak terlalu tipis dan transfaran.
3.      Warna tidak cerah mencolok. Di sunnahkan memakai yang warna gelap.
4.      Tidak diberi wangi-wangian
5.      Tidak menyerupai pakaian orang kafir
6.      Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
7.      Tidak mengundang perhatian pria
8.      Tidak merupakan pakaian syuhrah. Syuhrah adalah pakaian yang menarik perhatin orang banyak, di anggap aneh,atau mengundang tawa.  Tentunya yang di ambil pun dari sudut pandang orang yang beriman dan paham agama. Di Indonesia masih sangat jarang wanita memakai purdah. Sehingga sangat aneh di mata  masyarakat banyak, namun ‘keanehan’ itu hanyalah dipandang oleh orang yang belum paham betul masalah hijab. Sehingga pandangan seperti tidak bisa di perturutkan.

So..  Keindahan yang seindah-indahnya hanyalah kepada yang halal yaitu suami. Keindahan untuk suami diimbangi dengan niat yang ikhlas akan mendatangkan keredhaan Allah Azza wajalla, tentunya pula akan melenggangkan  kasih sayang dalam rumah tangga. In sya Allah

Keindahan yang kebablasan ketika keluar rumah akan mendatangkan mudharat, bahkan bisa mendatangkan laknat Allah, Rasul-Nya dan juga para malaikat, walaupun tidak ada niatan  untuk pamer atau untuk menggoda laki-laki lain.

Tundukkan selera itu hanya kepada tuntunan Allah, Insya Allah akan senangkan hati kita dan orang lain kepada kita.

Semua manusia suka keindahan, termasuk memakai pakaian yang indah. Bahkan agama pun menyuruh memakai pakaian yang indah, yang ...
El Nurien
Cahaya Akhwat


Bicara tentang wanita memang tak ada habisnya, Dan berbagai penjuru dunia pun selalu bicara wanita. Di dalam Alquran sendiri ada surah Annisa, bahkan kita bisa mengambil pelajaran tentang wanita tak hanya di surah Annisa. Apakah penjelasan ayat itu secara tersurat atau yang tersirat. Bahkan dari satu ayat untuk wanita, kadang kita bisa mengambil dari pelajaran sisi. Itu artinya, betapa sangat memuliakan wanita, sehingga Allah kasih aturan-aturan kepada wanita walaupun dalam hal sangat sepele agar wanita itu bahagia dunia dan akhirat.

Sebagai kaum lelaki, bagaimanakah perlakuanmu terhadap wanita?

Sebagai wanita , bagaimanakah  kita memperlakukan diri sebagai wanita? Sudahkan kita menyadari tabiat yang tersembunyi? Sudahkah kita mengakui potensi-potensi yang dimiliki? Sudahkah kita mengukur sejauh mana kemampuan kita dalam menggapai cita-cita? Taukah di mana Allah ingin meletakkan dan apa yang Allah inginkan terhadap diri kita?

 Al-Qur’an juga menceritakan tentang perlakuan-perlakuan orang-orang terhadap wanita? Dan Al-Qur’an juga menjelaskan seharusnya seperti apa perlakuan terhadap wanita, dan bagaimana seharus wanita memperlakukan dirinya sendiri.

 “Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh” (Al-Ahzab : 72)

Bodoh adalah tidak tau meletakkan sesuatu pada tempatnya. Zalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Bodoh,  tidak tau. Sedangkan zalim. tau tapi berbuat tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.

Pada dasarnya manusia itu mempunyai sifat zalim dan bodoh. Jika tanpa dibekali dengan ilmu agama dan iman maka manusia cenderung hanya bersifat pada pemuasan nafsu. Begitu juga dengan perlakuan terhadap wanita, bahkan Al-Qur’an juga telah menceritakan bagaimana perlakuan-perlakuan suatu kaum terhadap wanita.

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl : 58-59)

Di satu sisi mereka menganggap/ memperlakukan wanita sangat rendah. Mereka malu bila mendengar istrinya melahirkan anak perempuan. Apakah anak itu akan mereka kubur hidup hidup atau mereka memeliharanya dengan perasaan malu. Andai pun anak perempuan itu di biarkan , ia tak mempunyai hak apa-apa sebagai anak bahkan sebagai seorang wanita. Ia diperlakukan sebagai budak, Ia tak mempunyai hak suara, hak pilih, hak waris bila ayahnya meninggal, bahkan ia akan menjadi harta waris bila suaminya meninggal. Ia akan jadi perembugan oleh ahli waris. Apakah ia di bebaskan, di berikan kepada ahli waris atau ia akan di nikahkan dan maharnya akan di ambil oleh ahli waris.

“Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: "Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.” (Al-Mu’min : 25)
Di sisi lain (di jaman Firaun) wanita seakan-akan sangat di muliakan. Pada saat laki-lakinya dijadikan budak / pelayan kerajaan, anak- anak laki-lakinya dibunuh sedangkan wanita dibiarkan hidup. Sebenarnya tidak! Wanita dibiarkan hidup karena mereka akan dijadikan pelampiasan-pelampiasan syahwat para tentara, dan bila mempunyai kecantikan dan terpilih kecantikannya, ia akan dijadikan selir oleh para pejabat-pejabat pemerintahan.

Inilah perlakuan-perlakuan sebelum Islam, yang ternyata penjelasan-penjelasan ini tak hanya sebatas sejarah masa lampau. Yang tak hanya di lakukan oleh orang-orang yang kita anggap “bodoh”. Ternyata perlakuan-perlakuan seperti itu terus berlanjut hingga beberapa abad kemudian dan masih menyisakan sisa-sisa kebudayaan-kebudayan seperti itu hingga sekarang ini dan dilakukan oleh orang-orang yang mungkin sudah di anggap “ pintar”

Perlakuan merendahkan masih ada di jaman sekarang pada ajaran yang bukan Islam. Ajaran yahudi dan Nasrani. Bahkan sebagian menganggap wanita itu terkutuk karena telah membuat Adam terusir. Dan ajaran-ajaran agama lainnya, seperti di sebuah negara, mereka yang beragama bukan Islam, wanita yang memberi mahar bila mau menikah. Bila suaminya meninggal, mereka tak boleh menikah. Ternyata ketimpangan terhadap wanita pun ada di Indonesia oleh mereka yang beragama Islam. Tak sedikit dari mereka yang tidak menginginkan lahirnya anak perempuan, entah apa alasan mereka. Tak sedikit pula dari berbagai pelosok desa, wanita tak mendapatkan harta waris bila ayahnya meninggal, sementara dalam kepemeliharaan atau merawat orang tua yang telah lansia di limpahkan kepada mereka.

Di Mesir beberapa abad setelah firaun. Masih diadakan kontes-kontes wanita, dipilihlah wanita yang tercantik dari sekian wanita-wanita cantik. Yang terpilih akan di hiasi secantik mungkin , dan mereka akan dipersembahkan kepada dewa penjaga sungai Nil , yang konon katanya akan dijadikan isteri oleh dewa tersebut. Anehnya , orang tua dari wanita tersebut merasa bangga mempunyai anak yang akan dijadikan tumbal.

Ternyata kontes-kontes atau menampilkan wanita-wanita cantik masih berlanjut sampai sekarang. Mereka bangga bisa tampil, kecantikannya dipuji dan dipuja, dijadikan idola, bisa berkompetisi, bisa terpilih sebagai orang tercantik. Memang kehidupan mereka melejet jadi kaya raya, masa depan yang mengiurkan, tawaran jadi bintang film, sinetron, model iklan begitu bejibun bahkan tak sedikit mereka mendapatkan jodoh dengan putra kerajaan, putra para pejabat, putra pengusaha dan putra- putraan J.

 Mereka tidak sadar bahwa kecantikan mereka, keseksian dan kemulusan tubuh mereka jadi sasaran mata-mata kapitalis, pelampiasan mata-mata hidung belang. Bahkan tak sedikit berita yang kita dengar ; di antara mereka ada yang disiksa, ada yang telah hilang keparawanannya (entah secara paksa atau suka rela), bahkan tak sedikit saat mereka lagi naik-naik daunnya rumah tangga mereka berantakan.

Anehnya, pemikiran budaya Firaun sudah merasuk hampir keseluruh lapisan masyarakat, bahkan tak hanya orang dewasa, bahkan anak kecil pun sudah bercita-cita jadi jadi artis cantik terkenal dan dibanggakan.

Dua ayat di atas menjelaskan tentang pandangan suatu kaum, atau pandangan umum dalam masyarakat luas. Yang ternyata jika lebih di telesuri ternyata masih ada-ada beberapa ayat AlQuran yang mengisyaratkan tentang perlakuan terhadap wanita yang yang dilakukan perindividu. Hingga Allah menurunkan beberapa peraturan.

 “…Cinta terhadap apa yang diinginkan berupa perempuan..” (Ali-Imran :14)
Ia hanya mencintai wanita itu, hanya berdasarkan syahwat. Entah ia melakukannya dengan cara halal atau tidak. Jika dengan menikah pun, tujuannya hanya kesenangan bertamengkan cinta. Ia menyayangi, melindungi, dan memberi nafkah.

Ia tidak tahu atau lupa bahwa ia mempunyai kewajiban lain, yaitu mendidiknya, membimbingnya dalam amalkan agama, dan menyelematkan dari fitnah duniawi dan kerasnya siksa neraka.

 “….sehingga kamu biarkan mereka terkatung-katung..” (Annisa : 129)
Perlakuan ini beda lagi. Mereka memperlakukan wanita terkatung. Entah pergi lari dari tanggung jawab, menikahi tapi lebih memilih istri-istrinya yang lain, atau meninggalkan istrinya tanpa status yang jelas.  Janda bukan, bersuami pun bukan.
 “Katakanlah, “ jika bapak-bapakmu, anak- anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah tumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang- orang fasik.”(At-Taubah : 24)
Kalau yang ini, terlalu mencintai wanitanya. Cintanya melebihi dari segala-galanya. Demi keluarga ia meninggalkan jihad. Ia selalu berusaha membahagiakan wanitanya, salah satunya dalam urusan nafkah. Sayangnya kerja kerasnya sampai berani meninggalkan kewajiban-kewajiban lain yang harus ia tunaikan. Bekerja keras sampai meninggalkan shalat, dan berani melakukan hal-hal yang dilarang agama, bahkan ada yang berani mengabaikan dan menentang orang tuanya.

 “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang- orang yang beriman, isteri Firaun….” (Attahrim: 11)
Firaun berbeda lagi, isterinya tidak kekurangan dari segi harta, bahkan Firaun pun memenuhi keinginan isterinya yang menginginkan mengambil bayi Musa, padahal saat itu Firaun menyuruh tentaranya membunuh semua bayi laki-laki.

Firaun tidak terima isterinya menyembah selain dirinya, tidak terima isterinya menyembah Allah. Akhirnya firaun memerintahkan agar isterinya diikat di bawah terik matahari. Namun, istrinya tetap pada keyakinannya sambil tersenyum dan berdoa,” Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya.” (At-Tahrim :11)

Aksi krestinisasi terus saja melancarakan serangannya, entah cara paksa atau dengan rayuan hingga akhirnya tidak sedikit muslimah terjebak di dalamnya. Tidak sedikit juga laki-laki yang beragama Islam, tetapi tidak setuju bahkan melarang isterinya amalkan aturan-aturan Islam. Ia tak setuju istrinya pakai jilbab, karena ia orang penting. Ia malu pada saat pertemuan istrinya berpenampilan uang menurutnya kuno. Ada yang tak suka istrinya silaturrahmi pada orang tuanya, tak suka istri bersedekah, bahkan tak sedikit perempuan berpakaian semakin seksi dan hot setelah menikah, konon katanya suaminya yang menyuruhnya.

Islam memberikan hak yang sama dengan laki-laki dalam ibadah, dalam kancah kehidupan, dan dalam mendapatkan ganjaran.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab : 35)

Islam telah mengatur bagaimana seharusnya wanita diperlakukan. Islam memberikan hak suara kepada wanita (lihat , Q.s. Al-Mujadilah :1) mempunyai hak yang sama dalam mengingatkan (At-Taubah :71).Mempunyai hak pilih dalam mengatur hidupnya. Mempunyai hak asuh (Al-Baqarah: 233). Di gauli secara baik-baik (Al-Baqarah :233) Hak di beri nafkah, hak dibimbing, dan hak dilindungi (An-Nisa: 34, At-tahrim:7) hak menentukan pilihan dalam menikah di beri mahar dan boleh menikah bila sudah berpisah dengan suami dan masa iddahnya telah habis (An-Nisa : 4, 21, 24 , dan Al-Baqarah : 231). Mempunyai hak waris ( An-Nisa: 11, 12, 178). Namun, Islam juga membatasi wanita dalam pergaulan (Al-Ahzab :34, 53), berpakaian (Al-Ahzab:59 ) bahkan dalam bertindak (An-Nur : 31, Al-Ahzab:34). Mengekang wanitakah? Tidak !! Islam memuji dan menjaga wanita shalehah (An-Nisa: 34, An-Nuur :4, An-Nuur :11-14) Islam mengatur demi kehormatan dan kebahagiaan wanita. Islam mengatur karena Allah tau tabiat-tabiat wanita, keindahan-keindahan wanita, dan potensi-potensi wanita.

Yang mana bila tidak diatur oleh agama, maka akan meninggalkan kehinaan bagi wanita bahkan akan terjadi keburukan-keburukan akibat wanita, seperti pemerkosaan, pelecehan, penganiayaan, perselingkuhan, bahkan fatal nya akan melahirkan generasi-generasi yang semakin tak bisa diharapkan.

"… dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya" (Al-Ahzab :33)

“Membersihkan kamu dengan sebersih-bersihnya” itulah maksud dari semua tentang aturan- aturan Islam terhadap wanita. Lebih dari itu dari diri mereka, di rumah mereka diharapkan; dibacakan, di pelajari/ di ajarkan ayat- ayat Allah dan sunnah Nabi-Nya. Hingga dari rumah-rumah mereka lahirlah generasi yang sholeh, mujahid- mujahid yang tanguh dan taat. Dan akhirnya wanita itu akan mendapatkan kehidupan yang mulia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Itulah janji ayat selanjutnya.

"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui." (Al-Ahzan :34) dan lihat ayat 35 diatas.

Mudahan kita – khususnya sebagai wanita,  mampu kembali kepada yang fitrah, mampu menempatkan segalanya sesuai pada tempatnya, dan sesuai dengan hukum-hukum Allah. Dan ketika harus kembali, ia kembali dengan membawa ampunan dan rahmat Allah.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar. Itu adalah keberuntungan yang besar.” (At-Taubah: 71-72)


“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl : 97)

Bicara tentang wanita memang tak ada habisnya, Dan berbagai penjuru dunia pun selalu bicara wanita. Di dalam Alquran sendiri ada surah...
El Nurien