Menu
Results for "Inner Beauty"
Cahaya Akhwat

Menelisik psikologis perempuan melalui ayat-ayat Al-Qur’an



Foto dari PicsArt

Di dunia maya sempat viral berita seorang ibu yang menggorok anak-anaknya. Atas kasus ini, ada yang membela dan menyalahkan. 


Ya, memang menggorok anak untuk seorang ibu seperti sebuah kemustahilan. Seorang ibu sanggup melakukan, patut dicurigai kalau dia memiliki gangguan jiwa. Dan mengapa dia sampai mengalami gangguan? Pastilah banyak yang harus diusut, baik  latar belakang lingkungan dia lahir dan dibesarkan, juga akhirnya menikah dengan siapa. Sampai di sini, yang paling sering patut diminta pertanggung jawaban adalah suaminya. 


Dalam kasus masing-masing mengemukakan pendapatnya, bahkan ajaran Islam pun disangkut pautkan. Yang disayangkan, terjadi perdebatan, dengan ada berpendapat bahwa tindakan itu menunjukkan tanpanya ada iman dan ilmu. Di sisi lain, ada mendebat, apa hubungan psikologis dengan iman?


So, aku di sini tidak ingin membahas itu. Aku hanya mengurai sedikit psikologis perempuan yang diambail dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dan itu pun tentunya, hanyalah sedikit. 


🖍️ Zulaikha


Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Yusuf: 23)


Ayat ini menceritakan seorang perempuan bernama Zulaikha yang tergila-gila kepada pembantunya sendiri, Yusuf as. Yang mana dikatakan, Yusuf memang sangat tampan dan pada saat usia ibarat bunga saatnya sedang mekar. 


Yusuf memang tampan, tapi Zulaikha juga bukan perempuan bodoh yang tergila-gila hanya karena fisik. Zulaikha seorang istri pejabat, tentu bukanlah sembarang perempuan yang pantas mendampingi seorang pejabat. Jadi tidak mungkin akalnya tumbang hanya karena seorang pembantu. 


Mungkin saja. Seperti yang dikatakan banyak orang, "cinta itu buta."


Namun yang kita dapatkan di sini, perempuan itu mempunyai sifat “ekstrim’ perasaan entah positif atau negatif jika sudah tertuju pada satu objek. 


Contohnya Zulaikha yang tergila-gila dengan Yusuf. Atau Istri Abu lahab yang sangat membenci Rasulullah, waktunya habis hanya untuk menyebarkan fitnah. Padahal juga, Abu Lahab seorang pemuka Quraisy, tentu istrinya juga buka kaleng-kaleng. Namun begitulah, kadang perempuan memiliki perasaan yang sulit dikendalikan. 


Penomena sekarang banyak terjadi, seperti perempuan yang tergila-gila dengan laki orang. Di antara sekian yang menjadi istri kedua atau selanjutnya, pasti ada terjadinya pertarungan batin. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Baik itu nafkah, anak-anak, status yang kadang tidak terdaftar, gunjingan orang-orang dan lain sebagainya. Namuni begitulah, ketika keinginan kuat, kadang mengalahkan seribu logika. 


Karena itu, jangan heran jika ada perempuan mengalami kekerasan dan kezaliman dalam rumah tangganya, tetapi masih saja bertahan. Kita sebagai penonton, pingin rasa ngumpat dengan mengatakan, "kamu itu bod*h." 


Kita menilai begitu, karena kita tidak memiliki perasaan sedalam itu.



Kita berlindung kepada Allah dari perasaan seperti ini. 


Kabar baiknya, jika perasaan ekstrim tercurah pada keluarga dan anak-anaknya. Tak heran jika kita melihat banyak perempuan sanggup bekerja keras demi keluarga, padahal pekerjaan rumah saja sudah cukup membuat lelah. Tak heran, jika ada seorang ibu mengorbankan nyawanya untuk anak-anaknya. 


🖍️Maryam


“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam:23)


Pada kasus viral seorang ibu yang mencelakai anak-anaknya, ayat ini juga lewat di beranda sosmed. Padahal kasus ini  tidak bisa disandarkan pada cerita Maryam. 


Maryam perempuan salehah saja sampai berpikir begitu, bagaimana dengan kita wanita biasa? Mungkin begitulah kira-kira pikiran kita. Jangan samakan kasus Maryam dengan kasus zaman now. 


Pertama : Maryam hanya berandai ingin mati, bukan mencelakai anaknya. Seperti apapun gunjingan yang ia terima, kemiskinan yang terus saja mendera dalam membesarkan anak seorang diri, lapar tanpa suami dan keluarga, lapar menjadi keseharian mereka, tetapi tidak sedikit pun Maryam berpikir membunuh anaknya.


Memang ada situasi perempuan yang merasa ingin rasanya mati, pingsan sejenak, ingin waktu berhenti, atau menelan obat tidur. 


Itu memang benar, ada saatnya perempuan berpikir begitu karena sifat manusia yang mempunyai keterbatasan. Tapi bukan ingin mencelakakan keluarganya. Apalagi jika dilihat dari ayat di atas (ayat Zulaikha), justru seharusnya anak-anak membuatnya terus bertahan, dan berjuang. Jadi kasus mencelakai anak itu sudah bertolak belakang dari sifat perempuan yang memiliki perasaan cinta yang luar biasa. 


Kedua : perasaan ingin mati Maryam karena memikirkan Marwah dan agama. Apa pendapat orang lain, dirinya yang menjaga mihrab hamil? Ketakutan yang sangat sulit dibayangkan. Perempuan salehah hamil? Apa bakal kata orang-orang? Jadi  bukan karena takut kelaparan. 


Ketiga: jangan menjadikan tolak ukur menjadi pembenaran. Wanita salehah saja, berbuat begitu bagaimana dengan kita? 


Ujian yang diterima Maryam, tidak ada seorangpun menimpa perempuan di dunia selain dia. Tentu tidak bisa disamakan dengan ujian yang kita terima. Selain itu, jika kita mundur ke belakang. Sebenarnya, saat Jibril masuk ke mihram dia, saat itu iman Maryam telah turun. Akibat kabar yang dia dengar bertentangan dengan fakta dan logika. Di situ ujian Maryam bermula, dan ia gagal. 


Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)


Maryam yang selalu melihat mukjizat dari Allah berupa makanan yang selalu ada, bagaimana bisa berkata begitu? Ya wajar, karena dia manusia. Memang benar, tapi di situlah, titik awal kadar kesalehan dia menjadi seperti manusia umumnya. Makanan yang biasa selalu tersedia, kini tidak muncul lagi. Sejak itulah dia harus berusaha untuk menghidupi dirinya. Bahkan berat hidupnya lebih besar daripada manusia umumnya. Begitulah, satu kesalahan yang dibuat orang saleh, konsekuensi yang diterima kadang lebih berat pada orang umumnya.


Coba bayangkan, bagaimana mungkin seorang perempuan habis melahirkan harus menggoyang pohon sebesar kurma? Sebesar apa kurma yang digoyang Maryam, Allahu a’lam. 


Mungkin saja, ada bantuan malaikat di balik itu. Mungkin saja Allah menyuruh menggoyang pohon kurma, hanya untuk mengajarkan dia berikhtiar. Allahu a'lam.


Maryam saat itu sudah seperti perempuan pada umumnya. Beruntungnya, kesalehan dia masih luar biasa, sehingga masih mendapatkan bimbingan Allah dalam menapaki hidupnya. 



🖍️Bunda Musa


"Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). (QS. Al-Qashah: 10)



Ibu manapun pasti akan berteriak jika melihat bayi imut yang baru saja dilahirkan mengapung di sungai. 


Dengan bantuan Allah, dia mempunyai kekuatan menahan diri, meski di ujung batas ketahanan.  



Sebagai manusia biasa, adakalanya kita mengalami situasi yang ingin rasanya berteriak. Rumah berantakan, cucian menumpuk, suaminya bisanya menuntut, anak-anak ribut, belum lagi masalah di luar seperti masalah bisnis atau lainnya. 


Di situasi seperti ini, yang sering jadi korban pelampiasan adalah anak-anak karena mereka lemah dan paling dekat. 


🖍️Istri Abu Lahab



"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). (QS. Al-Lahab: 4)


Kisah istri Abu Lahab telah disinggung di atas. Bagaimana mungkin seorang istri pemuka menghabiskan waktunya hanya untuk menyebarkan fitnah?


Begitulah perempuan, mempunyai sifat yang luar biasa. Jika cinta, sangat cinta. Jika benci, sangat benci. Mereka sanggup berkorban harta dan nyawa demi cinta atau bencinya. 


Beruntung jika yang memegang sifat ini wanita salehah, seperti Khadijah r.ha yang menghabiskan hartanya untuk agama Allah. Ummu Syarik tidak takut mati, demi menyebarkan agama Allah. Atau istri Fir’aun yang tidak takut mati demi sebuah keyakinan. 



🖍️Orang tidak mengenal Allah


“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah:19-20)



Ayat ini sebenarnya menyinggung orang-orang kafir. Pelajaran yang dapat kita ambil, begitulah situasi jiwa seseorang jika tidak mengingat apalagi tidak mengenal Allah. 


Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat.


Masalah bertubi-tubi seperti hujan deras ditambah, gelap, petir dan kilat. 


Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati.


Ketakutan membuat penderitaan semakin lengkap. Takut miskin, ditinggalkan, mati dan banyak ketakutan yang bahkan tidak jelas asal usulnya. Awal covid, orang-orang berebut bahan makanan, masker dan bahan pokok lainnya, karena takut kelaparan. Minyak goreng mahal, kita juga diserang takut karena biaya hidup semakin membengkak. 


Berita tabung gas 3kilo meledak entah darimana, takutnya se-Indonesia. Begitulah kita. Sifat ketakutan inilah yang kadang dimanfaatkan oleh segelintir dengan menciptakan dan menggiring kepada suatu opini. 


Bukankah ketakutan suatu yang semestinya, untuk melindungi diri? Memang ketakutan harus ada, tetapi tidak seharusnya rasa itu menguasai kita, apalagi sampai melakukan kegilaan dan  merugikan orang lain.


Setiap kali (kilat itu) menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. 


Pada dasarnya, segala sesuatu itu kehendak Allah. Berhasil tidaknya pada suatu usaha, itu atas kehendak Allah. Kita hanya berusaha, Allah yang menentukan. 


Bagi kita muslim atau orang yang begitu mudah mengingat Allah, mereka akan mengelola pikiran juga perasaan.


Jika kena musibah atau gagal, akan sadar bahwa ini atas kehendak Allah. Kesadaran ini, akan ciptakan hati lebih lapang, ikhlas, lalu lagi dan lagi berharap serta berusaha.


Beda dengan orang yang tidak kenal Allah, ketika gagal mereka syok, depresi dan putus asa. Beruntung, jika situasi ini ada keluarga atau teman terdekat. Jika tidak? 


*** 

Lanjut hal 2 --->>



Menelisik psikologis perempuan melalui ayat-ayat Al-Qur’an Foto dari PicsArt Di dunia maya sempat viral berita seorang ibu yang menggorok an...
El Nurien
Cahaya Akhwat


“Tiada seorang muslim yang mendoakan temannya tanpa diketahui oleh orang yang didoakan, melainkan akan disambut oleh malaikat, “Dan untukmu juga seperti itu.” (HR. Muslim dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu)

Mendoakan orang lain merupakan amalan yang paling, namun manfaatnya sangat besar bagi kita.
Setiap kali doa kebaikan yang tersisip untuk orang lain, dan mereka tidak mengetahuinya, maka malaikat akan selalu menjawab, “Untukmu juga.” Sedang doa malaikat pasti makbul. 

Mendoakan orang lain, salah satu cara untuk merayu Allah dengan perantara malaikat. Misalnya, jika kita menginginkan anak-anak yang shaleh, maka doakan anak-anak tetangga, anak-anak saudara, dan semuslim agar menjadi anak yang shaleh, maka malaikat akan mendoakan untuk anank-anak kita. 

Karena itu, sisipkan nama-nama saudara kita, baik dekat maupun jauh, saudara semuslim dalam setiap doamu. Agar kita juga mendapatkan kebaikan yang sama.


Mendoakan orang lain tanpa dia ketahui adalah salah satu ikon kasih sayang dan ketulusan.  Semakin banyak kita mendoakan orang lain, sebanyak itu pula doa malaikat untuk kita. Dan semakin bersemi bunga-bunga ketulusan dalam hati kita,  yang akan menyerbakkan sikap dan prilaku yang memukau. 

Selain itu, berhati-hatilah dari mendoakan keburukan atau sumpah serapah untuk orang lain, karena malaikat akan mendoakan hal yang sama untukmu.  

Jangan lupakan saudaramu dalam setiap doamu.

“Tiada seorang muslim yang mendoakan temannya tanpa diketahui oleh orang yang didoakan, melainkan akan disambut oleh malaikat, “Dan un...
El Nurien
Cahaya Akhwat




Menjadi bahan gunjingan memang menyakitkan. Terlebih lagi, jika kita berprasangka baik pada mereka, ternyata mereka menggunjing kita di belakang kita.  Ibarat taman digoncang prahara. Hancur berantakan.

Kendati demikian, janganlah tenggelam dalam emosi dan kekecewaan. Postif thinking dan introspeksi diri. Kenapa kita jadi bahan gunjingan? Tidak ada asap tanpa api. Setiap akibat pasti ada sebab. Kita jadi bahan gunjingan, mungkin dikarenakan kita telah melakukan suatu kesalahan atau mereka anggap itu kesalahan.

Jadi lakukanlah muhasabah diri, apakah yang kita lakukan itu memang salah? Jika memang itu kesalahan, kenapa kita tidak mau mengakuinya? Diakui, perlu jiwa besar untuk mengakui sebuah kesalahan, tapi dengan menutup diri dan menyalahkan orang lain, merupakan kekerdilan jiwa dan bukan solusi yang tepat, bahkan bisa jadi memperpanjang masalah. Dan kita, semakin terperangkap dalam emosi dan kebutaan hati.
Jika memang yang kita lakukan adalah benar dan menurut agama juga benar, setidaknya berusahalah untuk menghindari konflik atau meminimalisir anggapan buruk dari orang lain terhadap kita. 

Ada kalanya kesalahan yang terlanjur dilakukan tanpa disengaja, dan kita pun menyesalinya, namun menurut pribadi, diam adalah lebih baik dalam menyikapi gunjingan orang-orang. 
“Alhamdulillah, ngurangin dosa, dapat transfer pahala.” Kalimat ini sering terlontar dari mulut orang yang jadi korban gunjingan. Entah apa yang dirasa di balik kalimat itu. Kalimat itu, bisa berupa penghibur diri bahwa mereka yang menggunjing akan rugi, atau bisa berupa ancaman dari hati yang sakit. 

Memang ada sebuah hadits yang menjelaskan:
“Bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 18, hadits no. 6744; dan Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Sunan at-Tirmidzi, juz IX, hal. 270, hadits no. 2063)*

Memang hadits di atas menjelaskan bahwa dosa-dosa orang yang dizalimi akan diberikan kepada orang yang menzalimi. Tapi, jika memang apa yang dikatakan itu benar, tidakkah seharusnya kita berterima kasih pada mereka? Karena telah mengingatkan kesalahan kita? Kecuali, jika memang gunjingan itu adalah fitnah.
So, seperti apa pun yang kita rasa, jangan tenggelam diri dalam emosi dan dendam. Bukalah jendela hati untuk menerima kalau memang itu sebuah kesalahan dengan barometer agama dan pandangan masyarakat. 

Dan tahanlah hati, agar tidak mendoakan mereka yang menggunjing dengan doa yang buruk atau berbahagia karena dosa kita telah ditransfer kepada mereka. Maafkan mereka, dan doakan kebaikan untuk mereka. 
Digosipin memang bikin baper, tapi kita berhak memantaskan diri untuk menjadi pribadi yang cerdas, ikhlas, bijaksana dan berjiwa besar. Hati yang terluka, memang sulit dihapus atau mungkin tidak akan terhapus, tetapi kita berhak bahagia dengan berlapang dada.








*http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/orang-yang-beruntung-dan-rugi/

Menjadi bahan gunjingan memang menyakitkan. Terlebih lagi, jika kita berprasangka baik pada mereka, ternyata mereka menggunjing...
El Nurien
Cahaya Akhwat




Suatu waktu, saya menemani rombongan masturah dari Bangladesh. Sebagai tuan rumah, pastilah kita berusaha melayani mereka sebaik mungkin. Baik dari segi transport, tempat tinggal, maupun konsumsi.
 

Permasalahannya, mereka tidak mau dilayani atau dirajakan. Mereka hanya perlu  transport, tempat tinggal dan disambut hangat oleh orang-orang tuan rumah. Soal komsumsi, mereka mau masak sendiri dengan selera sendiri. Kita selaku tuan rumah, tak bisa bersikeras memaksa mereka.

Setiap dua malam, rombongan pindah ke rumah-rumah yang telah disediakan dengan senang hati dan orang-orang tempatan – orang yang tinggal di daerah tersebut/bukan tuam rumah – pun berusaha melayani mereka sebaik mungkin. 

Dan saya lupa, berapa rumah sempat menemani mereka, dan ada beberapa hikmah yang saya inginkan tuangkan di sini.
Sebelumnya, sudah saya ceritakan, orang-orang tempatan telah berusaha sebaik mungkin dalam masalah pelayanan. Namun, pada rumah-rumah pertama, kebjikan-kebijakan yang diberikan terlihat terasa berlebihan dan mubajir, terlebih lagi memang rombongan ingin mandiri. 

Akhirnya, entah rumah yang ke berapa, kebijakan berubah. Dan kebijakan baru juga terlihat bagus, efisien dan tidak mubajir. Hanya saja, dengan kebijakan baru, ada satu sisi yang terabaikan. Akhirnya, sebelum waktu saya menemani mereka berakhir, saya coba sampaikan ke orang tempatan yang lebih dituakan. Karena menurut saya, satu sisi yang terabaikan itu, juga sama penting bagaimana memberikan yang terbaik untuk tamu. Dan entah bagaimana nanti kebijakannya, itu terserah orang-orang tempatan. Saya hanya menyampaikan. 

Maaf, jika cerita saya agak berbelit-belit. Saya hanya coba berusaha menutupi daerah dan kasusnya. Karena pada intinya, saya hanya ingin mengurai hikmahnya, bukan kasusnya. 

Beberapa hari kemudian, saya berkunjung ke rombongan dan bertemu dengan orang tempat saya melapor. Entah kenapa, ada perasaan malu pada beliau. Saya seperti telah mengadukan kesalahan orang lain. Itu yang membuat saya malu, dan mungkin juga, cara penyampaian saya juga memalukan. Saya meminta maaf kepada beliau, karena telah ikut campur dengan urusan daerah mereka, dan padahal saat itu juga saya sebagai tamu, sama seperti rombongan tersebut. 

Setelah itu, beliau berkata, “Tolong tutupi!”
Saya melihat raut wajah beliau saat itu, seakan-akan mewakili semua orang yang melakukan kesalahan. Baik disengaja atau tidak disengaja. 

Padahal, saat saya menyampaikan, niat saya cuma ingin ada kebijakan baru  supaya satu sisi itu juga diperhatikan. Tapi bagi beliau, mungkin itu sebuah kesalahan yang membuat mereka malu.
Setelah itu, saya selalu terngiang-ngiang kalimat itu. Tolong tutupi. Bersamaan itu pula, saya teringat apa saja yang saya lakukan selama menemani rombongan. Saya bercerita banyak kepada teman-teman tertentu perihal rombongan. Tak ada niatan membeberkan aib mereka, dan kadang saya pun memandang bukan aib, tapi sesuatu yang kocak hingga ingin bercerita ke teman lain. 

Indonesia dan Bangladesh, beda Negara, tentu beda karakter. Itulah kadang, saya merasa lucu dengan tingkah-tingkah mereka. Namun, belakangan prilaku saya bercerita ke teman, disilet oleh kalimat, “Tolong tutupi.” Sungguh menyakitkan. 

Terlebih lagi, hari berikutnya saya berkunjung kembali sebagai perpisahan karena semakin jauh mereka bergerak, semakin sulit saya mengunjungi mereka. Pada perpisahan inilah, sikap mereka yang luar biasa  membuat perasaan saya semakin merasa bersalah. Saya telah mengkhianati kebaikan mereka. Sampai saat ini, jika ingat kebaikan mereka, teringat pula lah kesalahan saya. Dosa mungkin saja bisa dimaafkan, tapi jejak di hati tetap tak terhapus. Baik itu kebaikan atau keburukan. 

Berikut beberapa hikmah yang dapat diambil.
1.      Mengadukan kesalahan orang lain meski niatnya baik, kadang bisa mempermalukan diri sendiri. Karena itu, jika memang memerlukan perbaikan, carilah waktu, tempat, bahkan kata-kata yang bijak.
2.      Membicarakan kesalahan orang lain, suatu saat kita akan dihadapkan rasa bersalah, kecuali jika memang  hati kita telah tertutup kebaikan.
3.      Setiap orang pasti merasa malu, jika terlanjur berbuat kesalahan, kecuali orang yang keras hatinya. Pasti juga malu melihatnya serta tak ingin dilihat dan diketahui oleh orang lain, terlebih lagi jika kesalahan itu memang tidak disengaja. Jika begitu, kenapa kita justru senang membicarakan dan membeberkan aib orang lain, padahal kesalahan kita sendiri ingin ditutupi?

Sungguh, sebuah pengkhiatan juga ketidakadilan. Maunya ditutupi setiap kesalahan yang terlanjur, tetapi kenapa justru gemar membicarakan, membuka dan membeberkan kesalahan orang lain.

Karena itu, berusahalah menutupi kesalahan orang lain, semoga Allah juga tutupi kesalahan kita. Membiacarakan kesalahan orang lain, secara tidak langsung telah menampakkan kejelekan kita sendiri. Jika ingat kesalahan orang lain, ingatlah pula, kita pasti pernah berbuat salah.

Suatu waktu, saya menemani rombongan masturah dari Bangladesh. Sebagai tuan rumah, pastilah kita berusaha melayani mereka seba...
El Nurien
Cahaya Akhwat



Pada umumnya, wanita itu memiliki berkarakter pemalu, dan perasaannya sangat halus. Akan tetapi,  banyak wanita yang kehilangan sifat malunya disebabkan pengaruh suasana lingkungan dan pergaulan. 

Namun malu yang maksudkan di sini adalah malu bermaksiat kepada Allah. Dan muslimah yang senantiasa berusaha dalam naungan cahaya hidayah dan iman, sifat malunya akan menjelma dengan cara yang memesona. Semakin kuat iman dan semakin paham ajaran Islam, perasaannya semakin peka dan semakin malu melakukan hal-hal buruk dan maksiat. Sehingga ia akan berpikir dan menimbang jika ingin berbuat dan berkata sesuatu. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam contoh teladan yang sempurna dalam memiliki sifat malu, seperti yang dikatakan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah sangat pemalu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan. Apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami melihatnya dari wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malu juga merupakan salah satu cabang iman.
“Iman itu terdiri dari tujuh puluh satu sampai tujuh puluh sembilan, atau eman puluh satu sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘laa ilaaha illallah,’ dan yang paling bawah adalah menyingkirkan penyakit dari jalanan, dan malu itu adalah cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Putri Syuaib adalah salah satu contoh pesona perempuan salehah. Kecantikan yang diperlihatkan putri Syuaib, kelak diabadikan dalam Al-Qur’an.

 “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesugguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan, sebagai imbalan atas (kebaikan)mu, memberi minum ternak kami. …” (QS. Al-Qashash: 25)

Malu putri Syuaib bukanlah malu tersipu seorang wanita kepada laki-laki, tetapi ia malu kepada Allah karena harus mendekati seorang laki-laki yang bukan mahram dan asing. 

Muslimah yang menghiasi dirinya dengan sifat malu ini, tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan wanita Barat yang sudah tidak memiliki rasa malu sedikit. Hiasilah diri dengan sifat malu karena sifat ini merupakan pesona tesendiri dan ciri khas muslimah yang senantiasa mereguk cahaya iman dan ilmu ajaran-ajaran Islam.

“Malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim)



  Pada umumnya, wanita itu memiliki berkarakter pemalu, dan perasaannya sangat halus. Akan tetapi,  banyak wanita yang kehilang...
El Nurien