Menu
Results for "Info Akhwat"
Cahaya Akhwat

Menelisik psikologis perempuan melalui ayat-ayat Al-Qur’an



Foto dari PicsArt

Di dunia maya sempat viral berita seorang ibu yang menggorok anak-anaknya. Atas kasus ini, ada yang membela dan menyalahkan. 


Ya, memang menggorok anak untuk seorang ibu seperti sebuah kemustahilan. Seorang ibu sanggup melakukan, patut dicurigai kalau dia memiliki gangguan jiwa. Dan mengapa dia sampai mengalami gangguan? Pastilah banyak yang harus diusut, baik  latar belakang lingkungan dia lahir dan dibesarkan, juga akhirnya menikah dengan siapa. Sampai di sini, yang paling sering patut diminta pertanggung jawaban adalah suaminya. 


Dalam kasus masing-masing mengemukakan pendapatnya, bahkan ajaran Islam pun disangkut pautkan. Yang disayangkan, terjadi perdebatan, dengan ada berpendapat bahwa tindakan itu menunjukkan tanpanya ada iman dan ilmu. Di sisi lain, ada mendebat, apa hubungan psikologis dengan iman?


So, aku di sini tidak ingin membahas itu. Aku hanya mengurai sedikit psikologis perempuan yang diambail dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dan itu pun tentunya, hanyalah sedikit. 


🖍️ Zulaikha


Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Yusuf: 23)


Ayat ini menceritakan seorang perempuan bernama Zulaikha yang tergila-gila kepada pembantunya sendiri, Yusuf as. Yang mana dikatakan, Yusuf memang sangat tampan dan pada saat usia ibarat bunga saatnya sedang mekar. 


Yusuf memang tampan, tapi Zulaikha juga bukan perempuan bodoh yang tergila-gila hanya karena fisik. Zulaikha seorang istri pejabat, tentu bukanlah sembarang perempuan yang pantas mendampingi seorang pejabat. Jadi tidak mungkin akalnya tumbang hanya karena seorang pembantu. 


Mungkin saja. Seperti yang dikatakan banyak orang, "cinta itu buta."


Namun yang kita dapatkan di sini, perempuan itu mempunyai sifat “ekstrim’ perasaan entah positif atau negatif jika sudah tertuju pada satu objek. 


Contohnya Zulaikha yang tergila-gila dengan Yusuf. Atau Istri Abu lahab yang sangat membenci Rasulullah, waktunya habis hanya untuk menyebarkan fitnah. Padahal juga, Abu Lahab seorang pemuka Quraisy, tentu istrinya juga buka kaleng-kaleng. Namun begitulah, kadang perempuan memiliki perasaan yang sulit dikendalikan. 


Penomena sekarang banyak terjadi, seperti perempuan yang tergila-gila dengan laki orang. Di antara sekian yang menjadi istri kedua atau selanjutnya, pasti ada terjadinya pertarungan batin. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Baik itu nafkah, anak-anak, status yang kadang tidak terdaftar, gunjingan orang-orang dan lain sebagainya. Namuni begitulah, ketika keinginan kuat, kadang mengalahkan seribu logika. 


Karena itu, jangan heran jika ada perempuan mengalami kekerasan dan kezaliman dalam rumah tangganya, tetapi masih saja bertahan. Kita sebagai penonton, pingin rasa ngumpat dengan mengatakan, "kamu itu bod*h." 


Kita menilai begitu, karena kita tidak memiliki perasaan sedalam itu.



Kita berlindung kepada Allah dari perasaan seperti ini. 


Kabar baiknya, jika perasaan ekstrim tercurah pada keluarga dan anak-anaknya. Tak heran jika kita melihat banyak perempuan sanggup bekerja keras demi keluarga, padahal pekerjaan rumah saja sudah cukup membuat lelah. Tak heran, jika ada seorang ibu mengorbankan nyawanya untuk anak-anaknya. 


🖍️Maryam


“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam:23)


Pada kasus viral seorang ibu yang mencelakai anak-anaknya, ayat ini juga lewat di beranda sosmed. Padahal kasus ini  tidak bisa disandarkan pada cerita Maryam. 


Maryam perempuan salehah saja sampai berpikir begitu, bagaimana dengan kita wanita biasa? Mungkin begitulah kira-kira pikiran kita. Jangan samakan kasus Maryam dengan kasus zaman now. 


Pertama : Maryam hanya berandai ingin mati, bukan mencelakai anaknya. Seperti apapun gunjingan yang ia terima, kemiskinan yang terus saja mendera dalam membesarkan anak seorang diri, lapar tanpa suami dan keluarga, lapar menjadi keseharian mereka, tetapi tidak sedikit pun Maryam berpikir membunuh anaknya.


Memang ada situasi perempuan yang merasa ingin rasanya mati, pingsan sejenak, ingin waktu berhenti, atau menelan obat tidur. 


Itu memang benar, ada saatnya perempuan berpikir begitu karena sifat manusia yang mempunyai keterbatasan. Tapi bukan ingin mencelakakan keluarganya. Apalagi jika dilihat dari ayat di atas (ayat Zulaikha), justru seharusnya anak-anak membuatnya terus bertahan, dan berjuang. Jadi kasus mencelakai anak itu sudah bertolak belakang dari sifat perempuan yang memiliki perasaan cinta yang luar biasa. 


Kedua : perasaan ingin mati Maryam karena memikirkan Marwah dan agama. Apa pendapat orang lain, dirinya yang menjaga mihrab hamil? Ketakutan yang sangat sulit dibayangkan. Perempuan salehah hamil? Apa bakal kata orang-orang? Jadi  bukan karena takut kelaparan. 


Ketiga: jangan menjadikan tolak ukur menjadi pembenaran. Wanita salehah saja, berbuat begitu bagaimana dengan kita? 


Ujian yang diterima Maryam, tidak ada seorangpun menimpa perempuan di dunia selain dia. Tentu tidak bisa disamakan dengan ujian yang kita terima. Selain itu, jika kita mundur ke belakang. Sebenarnya, saat Jibril masuk ke mihram dia, saat itu iman Maryam telah turun. Akibat kabar yang dia dengar bertentangan dengan fakta dan logika. Di situ ujian Maryam bermula, dan ia gagal. 


Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (QS. Maryam: 20)


Maryam yang selalu melihat mukjizat dari Allah berupa makanan yang selalu ada, bagaimana bisa berkata begitu? Ya wajar, karena dia manusia. Memang benar, tapi di situlah, titik awal kadar kesalehan dia menjadi seperti manusia umumnya. Makanan yang biasa selalu tersedia, kini tidak muncul lagi. Sejak itulah dia harus berusaha untuk menghidupi dirinya. Bahkan berat hidupnya lebih besar daripada manusia umumnya. Begitulah, satu kesalahan yang dibuat orang saleh, konsekuensi yang diterima kadang lebih berat pada orang umumnya.


Coba bayangkan, bagaimana mungkin seorang perempuan habis melahirkan harus menggoyang pohon sebesar kurma? Sebesar apa kurma yang digoyang Maryam, Allahu a’lam. 


Mungkin saja, ada bantuan malaikat di balik itu. Mungkin saja Allah menyuruh menggoyang pohon kurma, hanya untuk mengajarkan dia berikhtiar. Allahu a'lam.


Maryam saat itu sudah seperti perempuan pada umumnya. Beruntungnya, kesalehan dia masih luar biasa, sehingga masih mendapatkan bimbingan Allah dalam menapaki hidupnya. 



🖍️Bunda Musa


"Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). (QS. Al-Qashah: 10)



Ibu manapun pasti akan berteriak jika melihat bayi imut yang baru saja dilahirkan mengapung di sungai. 


Dengan bantuan Allah, dia mempunyai kekuatan menahan diri, meski di ujung batas ketahanan.  



Sebagai manusia biasa, adakalanya kita mengalami situasi yang ingin rasanya berteriak. Rumah berantakan, cucian menumpuk, suaminya bisanya menuntut, anak-anak ribut, belum lagi masalah di luar seperti masalah bisnis atau lainnya. 


Di situasi seperti ini, yang sering jadi korban pelampiasan adalah anak-anak karena mereka lemah dan paling dekat. 


🖍️Istri Abu Lahab



"Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). (QS. Al-Lahab: 4)


Kisah istri Abu Lahab telah disinggung di atas. Bagaimana mungkin seorang istri pemuka menghabiskan waktunya hanya untuk menyebarkan fitnah?


Begitulah perempuan, mempunyai sifat yang luar biasa. Jika cinta, sangat cinta. Jika benci, sangat benci. Mereka sanggup berkorban harta dan nyawa demi cinta atau bencinya. 


Beruntung jika yang memegang sifat ini wanita salehah, seperti Khadijah r.ha yang menghabiskan hartanya untuk agama Allah. Ummu Syarik tidak takut mati, demi menyebarkan agama Allah. Atau istri Fir’aun yang tidak takut mati demi sebuah keyakinan. 



🖍️Orang tidak mengenal Allah


“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah:19-20)



Ayat ini sebenarnya menyinggung orang-orang kafir. Pelajaran yang dapat kita ambil, begitulah situasi jiwa seseorang jika tidak mengingat apalagi tidak mengenal Allah. 


Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir dan kilat.


Masalah bertubi-tubi seperti hujan deras ditambah, gelap, petir dan kilat. 


Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati.


Ketakutan membuat penderitaan semakin lengkap. Takut miskin, ditinggalkan, mati dan banyak ketakutan yang bahkan tidak jelas asal usulnya. Awal covid, orang-orang berebut bahan makanan, masker dan bahan pokok lainnya, karena takut kelaparan. Minyak goreng mahal, kita juga diserang takut karena biaya hidup semakin membengkak. 


Berita tabung gas 3kilo meledak entah darimana, takutnya se-Indonesia. Begitulah kita. Sifat ketakutan inilah yang kadang dimanfaatkan oleh segelintir dengan menciptakan dan menggiring kepada suatu opini. 


Bukankah ketakutan suatu yang semestinya, untuk melindungi diri? Memang ketakutan harus ada, tetapi tidak seharusnya rasa itu menguasai kita, apalagi sampai melakukan kegilaan dan  merugikan orang lain.


Setiap kali (kilat itu) menyinari mereka, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. 


Pada dasarnya, segala sesuatu itu kehendak Allah. Berhasil tidaknya pada suatu usaha, itu atas kehendak Allah. Kita hanya berusaha, Allah yang menentukan. 


Bagi kita muslim atau orang yang begitu mudah mengingat Allah, mereka akan mengelola pikiran juga perasaan.


Jika kena musibah atau gagal, akan sadar bahwa ini atas kehendak Allah. Kesadaran ini, akan ciptakan hati lebih lapang, ikhlas, lalu lagi dan lagi berharap serta berusaha.


Beda dengan orang yang tidak kenal Allah, ketika gagal mereka syok, depresi dan putus asa. Beruntung, jika situasi ini ada keluarga atau teman terdekat. Jika tidak? 


*** 

Lanjut hal 2 --->>



Menelisik psikologis perempuan melalui ayat-ayat Al-Qur’an Foto dari PicsArt Di dunia maya sempat viral berita seorang ibu yang menggorok an...
El Nurien
Cahaya Akhwat


Wanita Bercadar. 

Wanita pada dasarnya sudah menarik perhatian, bahkan jika ngga pintar-pintar menjaga diri seorang wanita dapat menjadi fitnah. Baik itu wanita yang belum menutup aurat, sudah berhijab, pun wanita bercadar.

Bagi wanita bercadar, sebuah keistiqomahan bukanlah sebuah kemustahilan. Tapi bukan pula sebuah jalan lurus yang bebas hambatan. Ada saja cobaannya. Untuk wanita bercadar, biasanya ada saja hal yang bisa dijadikan perhatian. Sayangnya hal yang diperhatikan bukan semuanya hal positif, banyak hal negatif hingga hal yang bersifat atau dibuat ambigu.

Keistiqomahan wanita bercadar kerap mendapat ujian. Bukan hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Contohnya saja seperti saat ini sedang ramai berita seorang wanita bercadar dengan peliharaannya. Coba deh gugling kata kunci "Wanita Bercadar" pasti berita tentang wanita itu terpampang nyata secara paripurna. 

Demi apa coba saya bahas ini? Ya karena saya blogger, jadi sering cek kata kunci. Kalau kata kunci itu berhasil menarik berita-berita yang ambigu, atau berita-berita buruk. Tau dong efeknya seperti apa? Efeknya adalah kebimbangan akan hukum islam bagi yang membaca. Bahkan bisa jadi menjelekkan islam sendiri. Karena apa? Tentu saja karena cadar saat ini adalah salah satu simbol islam.



Selain itu, setelah saya telusuri berita itu teramat tidak berimbang. Terutama dalam ajaran islam. 

Biasanya mereka mengutip hadist berikut ini:
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu mengelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.”
(HR. Muslim no. 2245).

Hadist itu sama sekali tidak mencantumkan makna memelihara. Tapi hanya memberi minum pada seekor anjing.

Kalau mau lebih jelas tentang hukum memelihara anjing, kita bisa melihat dari hadis berikut.

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا لَيْسَ بِكَلْبِ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارِيَةٍ ، نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطَانِ

“Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.”
(HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)
Dua qiroth: DUA GUNUNG UHUD.

Pahala amalannya berkurang setiap hari. Jadi apa artinya? Rugi. Iya, R U G I.
Apakah kita mau menjadi orang yang merugi? Naudzubillah.

Berada di posisi menutup aurat secara sempurna memang ngga gampang sama sekali. Harus lebih waspada, karena pada dasarnya wanita bercadar adalah wanita biasa tempat salah dan lupa. Tapi bukan berarti berhenti belajar begitu saja. 

Sebagai muslimah, yaitu wanita beragama islam. Baik itu yang bercadar atau belum, kita wajib menjaga maruah. Teruslah cari tau, belajar lagi, bagaimana ibadah kita, apa saja hal-hal yang udah diatur dalam agama kita. Apakah hari-hari yang dilalui sudah syar'i? Baik itu tingkah laku, pekerjaan, dan semua tindakan yang kita jalani. 


Semoga kita selalu dibimbing Allah SWT dalam menjalankan syariat-Nya hingga ajal menjemput nanti.

Wanita Bercadar.  Wanita pada dasarnya sudah menarik perhatian, bahkan jika ngga pintar-pintar menjaga diri seorang wanita dapat men...
ahliah citra
Cahaya Akhwat


Niqabis


Dua hari ini timeline saya sedang ramai dengan video promosi film yang diangkat dari sebuah novel fenomenal. Novel dan film itu memang selalu sukses di dunianya.

Dalam video promosi film itu, terdapat bagian di mana ada empat orang wanita berabaya hitam lengkap dengan niqab yang berdiri di panggung. Lalu para penonton diminta menebak, wanita mana yang berperan dalam film itu. Dan pada bagian terakhir dua wanita berniqab itu membuka niqab yang mereka pakai.

Bisa diduga bagaimana reaksi netizen akan viralnya video tersebut?

Sebagai seorang wanita bercadar, yup..., saya shock. Pasti teman-teman yang lain pun seperti itu juga.

Cadar atau niqab, memanglah hanya selembar kain yang digunakan untuk menutup wajah. Tapi percayalah, ngga gampang untuk memakainya. Apalagi secara istiqomah. Berat, Buuuu.... percaya deh.

Untuk masalah cadar memang ada perbedaan pendapat, ada yang bilang wajib dan ada juga yang bilang sunnah. Semua pun memiliki dalil masing-masing. Jadi baca ini ngga usah pakai debat yah. Kita piss piss ajah bahasnya.

Hukum memakai cadar dalam pandangan 4 mahzab

Seperti kasus akhwat bercadar pajang foto di medsos. Sampai sekarang juga masih sering bikin ribut kan yah? Ada yang beralasan dakwah agar cadar ngga dianggap aneh dan bisa diterima oleh masyarakat. Tapi ada juga yang keukeuh ikut pendapat ngga boleh pajang foto, sebenernya ini mah buat semuanya yah, bukan cuma akhwat bercadar aja yang ngga boleh pajang foto kan?

Baidewei, alhamdulillaah di Indonesia ngga terlalu sulit memakai cadar. Walau pun yah kadang masih ada hal-hal yang ngga mendukung buat perempuan bercadar. Contoh paling gampang yang sering saya temui adalah masjid yang tempat wudhunya masih gabung antara laki-laki dan perempuan dan juga hijab pemisah tempat sholatnya hanya sebatas dada jadinya masih keliatan tuh sama laki-laki kalau kita lagi sholat. Jadi saya harus mencari masjid yang benar-benar bersahabat dengan niqabis.

Balik lagi ke soal video tadi. Saya sebagai wanita yang memakai cadar saat keluar rumah, untuk sholat saja saya pilih-pilih agar aurat saya tetap terjaga agar ngga terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram. Lalu membuka cadar di atas panggung? 

Ya memang menurut klarifikasi yang telah dibuat oleh MC acara itu, bahwa wanita-wanita berniqab itu diperan oleh Usher atau SPG yang pada dasarnya ngga bercadar bahkan ngga berjilbab. Tapi bukan itu kan poinnya? Poin yang ditangkap dari acara itu adalah, wanita bercadar bisa dengan mudah membuka cadarnya di depan umum.

Perlu diketahui yah, bagi wanita yang sudah bercadar atau berniqab, kebanyakan dari mereka berpegang pada pendapat bahwa wajah itu bagian dari aurat. Jika para hijaber berpegang pada hijab lebarnya ngga akan pernah dibuka di hadapan laki-laki yang bukan mahram, maka begitu pun kami. Ngga akan memperlihatkan wajah pada laki-laki yang bukan mahram. Beda dengan wanita yang menganggap bercadar itu sunnah. Saya pernah baca ada istilah wanita setengah bercadar. Yang artinya, ada saatnya dia bercadar dan ada saatnya juga dia ngga pakai cadar. 

Jadi ngga masalah dong buka cadar di depan umum? Kan ada yang bilang hukumnya sunnah juga, jadi kenapa harus marah? 
Itu kan kalau yang berpendapat sunnah. Kalau yang berpendapat hukumnya wajib? Ya jelas marah lah. 

Tapi ya balik lagi ke masalah pemahaman. Seperti yang ditulis aktris pemeran utama di film itu, dalam klarifikasi di IG nya, Mba Cantik itu bilang, kalau memang kurang pemahaman tentang hukum niqab atau cadar.

Semoga para muslimah yang berdakwah lewat media hiburan bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk mempelajari hukum-hukum agama yang dianutnya. Ngga cuma ikut skrip, ngga cuma nurut sama EO atau pun PH. Bahkan kalau bisa, kalau melihat ada yang ngga sesuai dengan kaidah agama, ya diluruskan. Supaya ngga terlanjur melukai perasaan umat.

Soalnya kejadian kaya gini ngga cuma sekali, hukum islam di eksploitasi untuk menarik penonton, menaikan rating kalau ada masalah ya cuma artisnya yang jadi bantalan. 

Tapi ya sudahlah. Sebagai akhwat dan juga sesama muslim, jika ada yang meminta maaf maka wajib hukumnya bagi kita untuk memaafkan. Jangan larut dalam luka. Jangan lanjut menghujat. Jangan terus-terusan membalas dengan lebih menyakiti. 

Jadi sebaiknya maafkanlah. Jadikan kejadian ini sebagai ujian kenaikan iman, buat semuanya. Terutama buat diri kita sendiri. Bagaimana caranya agar niqab ngga kehilangan maknanya. Ini PR buat kita semua para muslimah.


Antara Niqab, Kelakuan dan Hati Yang Saling Memaafkan Dua hari ini timeline saya sedang ramai dengan video promosi film yang dia...
ahliah citra
Cahaya Akhwat



Pada umumnya, wanita itu memiliki berkarakter pemalu, dan perasaannya sangat halus. Akan tetapi,  banyak wanita yang kehilangan sifat malunya disebabkan pengaruh suasana lingkungan dan pergaulan. 

Namun malu yang maksudkan di sini adalah malu bermaksiat kepada Allah. Dan muslimah yang senantiasa berusaha dalam naungan cahaya hidayah dan iman, sifat malunya akan menjelma dengan cara yang memesona. Semakin kuat iman dan semakin paham ajaran Islam, perasaannya semakin peka dan semakin malu melakukan hal-hal buruk dan maksiat. Sehingga ia akan berpikir dan menimbang jika ingin berbuat dan berkata sesuatu. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam contoh teladan yang sempurna dalam memiliki sifat malu, seperti yang dikatakan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah sangat pemalu daripada seorang gadis yang berada dalam pingitan. Apabila beliau melihat sesuatu yang dibencinya, kami melihatnya dari wajahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malu juga merupakan salah satu cabang iman.
“Iman itu terdiri dari tujuh puluh satu sampai tujuh puluh sembilan, atau eman puluh satu sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘laa ilaaha illallah,’ dan yang paling bawah adalah menyingkirkan penyakit dari jalanan, dan malu itu adalah cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Putri Syuaib adalah salah satu contoh pesona perempuan salehah. Kecantikan yang diperlihatkan putri Syuaib, kelak diabadikan dalam Al-Qur’an.

 “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari perempuan itu berjalan dengan malu-malu, dia berkata, ‘Sesugguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan, sebagai imbalan atas (kebaikan)mu, memberi minum ternak kami. …” (QS. Al-Qashash: 25)

Malu putri Syuaib bukanlah malu tersipu seorang wanita kepada laki-laki, tetapi ia malu kepada Allah karena harus mendekati seorang laki-laki yang bukan mahram dan asing. 

Muslimah yang menghiasi dirinya dengan sifat malu ini, tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan wanita Barat yang sudah tidak memiliki rasa malu sedikit. Hiasilah diri dengan sifat malu karena sifat ini merupakan pesona tesendiri dan ciri khas muslimah yang senantiasa mereguk cahaya iman dan ilmu ajaran-ajaran Islam.

“Malu itu adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Muslim)



  Pada umumnya, wanita itu memiliki berkarakter pemalu, dan perasaannya sangat halus. Akan tetapi,  banyak wanita yang kehilang...
El Nurien
Cahaya Akhwat


بسم الله الر حمن الرحيم
Mungkin kamu yang berjilbab, pernah mendengar kata-kata,  “Waah, rambutnya bagus ya! Sayang sekali ditutupi!” Atau bagi kamu yang bercadar pernah dengar.  “Wah, ternyata cantik yaa.”
Aku jadi berpikir, cantik itu untuk siapa? 
Setiap orang senang dengan cantik, bahkan kita umat muslim pun disuruh cantik. Tapi dengan menjaga kecantikan sesuai koridor agama tentunya.
Hampir semua perempuan suka bercantik diri (walau sebagian ada perempuan yang memang tidak peduli dengan penampilan). Jauh untuk siapa, cantik memang membuat nyaman dipandang, bahkan diri kita sendiri pun senang melihat kalau keadaan kita nyaman dipandang. 

Cantik dan berhias adalah fitrah perempuan. Namun kadang sangat disayangkan, kecantikannya untuk dipamerkan,  bukan  utuk yang berhak memandangnya, dan cantiknya kadang sudah jauh dari nilai-nilai agama.

Berhias untuk suami, memang dianjurkan dalam agama. Akan tetapi, tentu penampilan cantik tersebut jangan sampai dibawa keluar rumah, meski niatnya untuk suami. 

Cantik untuk pacar atau tunangan? Ini tidak dibolehkan untuk agama.  
Fitrah lainnya dari perempuan adalah suka diperhatikan. Dan salah satu alat perempuan agar diperhatikan adalah cantik. 

“Dunia seluruh isinya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalehah.” (HR. Muslim. dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

Wahai sekalian wanita, sesungguhnya yang paling baik di antara kalian akan memasuki surga sebelum orang yang paling di kalangan lelaki. Mereka akan mandi, dan memakai minyak wangi dan menyambut suami-suami mereka di atas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka anak-anak kecil, mereka seperti batu permata yang berkeliauan.” (HR.Abu Syaeh, dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

Dan agama pun menghormati fitrah ini, bahkan akan mendapatkan pahala jika disalurkan kepada yang halal.
 Apabila engkau mempunyai suami, dan engkau mampu melembutkan kedua bulu matamu dan membuatnya lebih baik, maka lakukanlah.” (Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha)

“Tidaklah seorang mu’min lebih mengambil manfaat setelah ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala yang baik baginya, dari pada isteri yang shalehah. Jika diperintah, maka ia taat. Jika suaminya melihatnya akan menyenangkannya. Jika suaminya bersumpah, maka ia akan menunaikannya. Dan jika suaminya tidak ada, maka ia akan menjaga dirinya dan hartanya.”  (HR. Ibnu Majah)

Kecantikan adalah anugerah Allah kepada wanita, sekaligus ujian yang besar buat wanita. Tak jarang wanita habis-habisan mengeluarkan dana agar tetap cantik atau lebih cantik.
Agama tak melarang hal ini, bahkan kita pun disuruh merawat nikmat yang Allah berikan.

“Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (pengaruh) nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.” (HR. Tirmidzi, Hakim)

“Barang siapa yang memilik rambut, maka hendaklah ia menghormatinya.” (HR. Abu Dawud)
“Apabila seseorang keluar mendatangi saudaranya, maka hendaklah ia mempersiapkan diri, karena sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan” (Imam Qurthubi)

Namun sangat disayangkan, tidak sedikit perempuan berani melakukan hal-hal yang dilarang agama demi sebuah kecantikan.
Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian dan melewati kumpulan orang-orang sehingga mereka mencium bau harumnya, maka dia adalah penzina.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, Hakim)

Dari Abdillah radhiyallahu ‘anhu,  Rasulullah saw melaknat wanita yang mencabut bulu alisnya dan merenggangkan agar kelihatan cantik  dengan merubah ciptaan Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. An-Nasa’i)
Untuk apa arti sebuah kecantikan dan seluruh dunia memujinya, kalau akhirnya kita mendapatkan murka Allah?
Alangkah beruntungnya seorang wanita yang dengan kecantikan mampu meraih redha Allah. Mampu menyenangkan hati suami dan membuat betah di rumah. Dan dengan sifat amanah yang ia miliki, suami tak khawatir meninggalkannya ketika bepergian.

Namun, alangkah malangnya seorang wanita karena kecantikan membuat ia terjerumus ke neraka (na’udzubillah,) bahkan kadang dengan menjerumuskan orang lain. Berapa banyak laki-laki berdosa karena melihat lengkok tubuh yang duhai dan wajah rupa yang rupawan. Berapa banyak suami-suami yang semakin terjerat dalam dunia hutang (bahkan mungkin kuropsi)  demi memenuhi kebutuhan kecantikan istrinya.
Raihlah cantik dengan tetap berjalan di atas koridor agama. Peliharalah kecantikan fisik dengan diimbangi memelihara kecantikan hati dan akhlak. 

Syukuri anugerah Allah dengan menambah ketaatan kepadaNya.
Insya Allah, dengan rahmat Allah, kita bisa lebih cantik di surganya Allah.  Menjadi ratu bidadari dengan mendampingi orang yang kita cintai di dunia.

بسم الله الر حمن الرحيم Mungkin kamu yang berjilbab, pernah mendengar kata-kata,   “Waah, rambutnya bagus ya! Sayang sekali ditutupi!...
El Nurien