Menu
Results for "Tarbiatul Aulad"
Cahaya Akhwat





Tidak semua anak berbakat punya perilaku layaknya anak-anak normal. Ada juga di antara mereka yang memiliki gangguan autisme dan pemusatan perhatian.
Saat berusia batita Jason dikenal sebagai bocah hiperaktif dan ADHD (gangguan pemusatan perhatian). Ia tak pernah bisa diam dan kadang menunjukkan agresivitasnya. Ia sangat hobi mengutak-atik sekaligus merusak atau menghancurkan barang-barang di rumahnya.

Karena sikapnya itu, orang tua
Jason membiarkan rumahnya kosong melompong. Di balik itu Jason juga termasuk sosok pendiam dan sulit bergaul. Namun, tak ada yang menyangka, bocah hiperaktif macam Jason ternyata memiliki kelebihan super yang tak dimiliki anak-anak seusianya. Kecerdasannya di bidang matematika luar biasa. Tak heran jika di usia 10 tahun ia sudah bisa masuk SMP dan di usia 13 tahun sudah duduk dibangku kelas 2 SMU.
Jason, menurut Dr. Reni Akbar Hawadi, M.Psi., termasuk kategori anak-anak gifted (berbakat) sekaligus handicapped (memiliki hambatan). “Di satu sisi, dia merupakan sosok hiperaktif yang ditandai dengan berbagai perilaku agresifnya. Di sisi lain, ia juga merupakan seorang jenius karena memiliki IQ 145 poin, selain kreativitasnya yang tinggi,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang juga peneliti anak-anak berbakat.

BERBAKATKAH ANAK ANDA?
Hal senada diungkapkan Astri S. Widianti, Psi., psikolog dari Essa Consulting Group. Menurutnya, anak berbakat adalah mereka yang memiliki kelebihan di atas anak-anak normal. Kelebihan itu pun setidaknya mencakup tiga hal yang sebagian sudah bisa ditunjukkan di usia batita.

*  IQ tinggi
IQ tinggi ditandai dengan ingatan yang kuat. Otaknya seolah berfungsi bak mesin pemotret. Kalau orang tua menjelaskan berbagai jenis kendaraan kepada si anak, contohnya, maka keesokan harinya ia sudah mampu mengingat dan menyebutkan semua kendaraan yang dijelaskan tadi sampai detail. Selain itu, perbendaharaan katanya relatif luas/banyak, sehingga biasanya gemar nimbrung ketika orang tuanya bercakap-cakap. Ia pun mampu berpikir logis dan kritis, sehingga saat menginjak usia prasekolah ia sudah mampu memecahkan soal-soal aljabar sederhana. 

Kejeniusannya terlihat dari kesenangannya mempelajari berbagai bacaan tebal seperti kamus ensiklopedi, dan sejenisnya, serta mampu memecahkan berbagai soal dengan cepat, selain cepat pula menemukan kesalahan maupun kekeliruan.
Tak jarang anak juga menunjukkan kemampuan supernya seperti mampu membaca lebih cepat di usia yang relatif lebih muda dibanding anak sebayanya. Kadang kemampuan membaca ini muncul tanpa pernah diajari sebelumnya secara khusus.

* Kaya Kreativitas
Kreativitas ditandai oleh dorongan ingin tahu yang sangat besar, sering mengajukan pertanyaan yang berbobot, memberi banyak gagasan dan usulan terhadap suatu masalah, bebas saat menyatakan pendapat, memiliki rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, punya pendapat sendiri, dapat mengutarakan pendapatnya dan tak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain, punya rasa humor yang tinggi, daya imajinasinya kuat, serta orisinalitasnya tinggi yang tampak kala ia mengungkapkan gagasan, buah pikiran, dan sejenisnya. Selain itu, ia juga mampu bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, dan mampu mengembangkan/merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasinya bagus).

* Motivasi Kuat
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama dan tak mau
berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk menunjukkan prestasi, ingin mendalami materi/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasi yang diraihnya), menunjukkan minat terhadap aneka masalah “orang dewasa” semisal soal pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya. Ia pun senang dan rajin belajar serta penuh semangat, hingga cepat bosan pada tugas-tugas rutin, memiliki orientasi pada tujuan-tujuan jangka panjang disamping bisa menunda pemuasan kebutuhan sesaat. (Pusat Keberbakatan http://puskat.psikologi.ui.edu/ Powered by: Joomla! Generated: 28 March, 2009, 07:12)

Singkatnya, “Jika seorang anak memiliki tiga kriteria tersebut, maka ia termasuk anak berbakat,” tandas Reni. Ia lalu menuturkan, saat ini memang terjadi perdebatan besar mengenai anak-anak berbakat (gifted) dengan disabilitylearning (kesulitan belajar). Sayangnya, berbagai gangguan dan kekurangan yang ditunjukkan sang anak kerap menutup mata orang tua untuk melihat berbagai kelebihan di baliknya.

BELUM POPULER
Memang, tidak semua anak autis memiliki kelebihan-kelebihan yang dimiliki anak-anak gifted. Penyandang autisme umumnya memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata, bahkan 70% di antaranya menunjukkan retardasi mental. Mereka juga kurang mampu berkonsentrasi, sehingga memerlukan terapi secara rutin.

Kendati begitu, tidak sedikit penyandang autisme ataupun anak hiperaktif yang memiliki bakat luar biasa dan ber-IQ tinggi. Sepintas, anak-anak ini umumnya terlihat hiperaktif, kurang konsentrasi, ceroboh, pembosan dan kadang agresif. Padahal, dalam dirinya tersimpan potensi yang sangat besar.

Itulah mengapa, cara pandang bahwa keberbakatan hanya bisa dimiliki anak-anak normal harus diubah. Anak berbakat tidak mengenal batasan negara, strata sosial, dan berbagai kekurangan ataupun gangguan perilaku yang dimiliki seorang anak. Kalau sudah ditakdirkan gifted, ya gifted.
Memang kategori gifted-handicapped ini, ungkap Reni, masih belum populer di Indonesia. “Ini berbeda dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Australia. Mereka sudah memiliki perkumpulan khusus yang menangani anak-anak gifted sekaligus memiliki gangguan seperti autis dan hiperaktif atau gifted-handicapped.”
PERBEDAAN AUTIS DAN GIFTED-HANDICAPPED
Menurut Reni, membedakan anak autis sekaligus gifted memang bukan perkara mudah. “Namun orang tua yang memiliki anak gifted-handicapped biasanya akan bisa merasakan adanya kelebihan-kelebihan yang dimiliki buah hatinya.”

Reni lantas mencontohkan seorang ibu yang sempat “mencurigai” kelebihan-kelebihan yang dimiliki batitanya yang autis. Si anak hiperaktif, tak mau menoleh kalau dipanggil, tapi sudah menguasai beberapa program sederhana di komputer. Akhirnya, setelah melalui pemeriksaan di luar negeri, anak tersebut dikategorikan sebagai gifted-handicapped child.
Memang sayang, instrumen penelitian untuk mengetahui keakuratan gifted-handicapped belum ada di Indonesia. “Alhasil, jika ingin mengetahui anaknya gifted atau tidak, harus melalui pemeriksaan di negara-negara maju seperti Singapura, Belanda, dan Australia,” lanjut Reni.

Jadi bukan perkara gampang untuk menentukan apakah seorang anak berbakat atau tidak, termasuk pada anak autis. Namun, tanpa perangkat tes sebetulnya bisa saja keberbakatan ini dilihat dan diukur dari performa anak secara kasat mata.

Contoh konkretnya, meski konsentrasi anak-anak autis cepat buyar dan perhatiannya mudah teralih, tapi dalam bidang tertentu ia bisa mencurahkan konsentrasinya. Semisal, anak batita yang bisa mengoperasikan beberapa program komputer yang relatif njlimet untuk anak seusianya.

BUTUH PENANGANAN KHUSUS
Anak-anak berbakat sekaligus memiliki gangguan ini, ungkap Reni dan Astri, memang perlu penanganan khusus. Kecepatannya dalam menerima pelajaran, contohnya, membuat mereka tak bisa disamakan dengan anak-anak normal lainnya. Jika anak lain masih berkutat di materi A, maka anak gifted sudah bisa menguasai materi C. Demikian halnya dengan anak-anak gifted-handicapped. Hal ini berlaku baik saat menjalani terapi maupun saat menstimulasi kognisi si anak. Untuk terapi, misalnya, anak-anak gifted-handicapped tidak bisa disamakan dengan anak-anak autis pada umumnya.

Kecepatannya menerima materi terapi membuat anak gifted-handicapped cepat bosan. Tak heran jika mereka biasanya ogah diterapi yang ditunjukkan dengan sikap marah, kerewelan atau menangis saat diterapi. Meski begitu ia sangat menguasai materi terapi.


STIMULASI YANG BISA DIBERIKAN
Astri menganjurkan orang tua dengan anak-anak seperti itu untuk banyak memberikan penjelasan tentang segala sesuatu yang dirasa menarik buat si kecil. Misalnya saat turun hujan, orang tua mampu menjelaskan mengapa bisa terjadi fenomena alam seperti itu. Jelaskan dengan cara sederhana dan singkat.      

Begitu juga saat melihat berbagai hal menarik yang diamatinya di teve. Orang tua cukup menerangkannya secara singkat kepada si anak, sebab tak jarang konsentrasi anak-anak gifted ini pendek sehingga cepat bosan.

Jangan segan-segan pula membacakan berbagai cerita menarik kepada si kecil. Setelah itu, biarkan ia menanggapinya. Agar kreativitasnya semakin terasah, orang tua juga bisa mengajukan berbagai pertanyaan kritis kepada anak.

Lengkapi juga fasilitas keluarga dengan sarana dan prasarana yang mengandung unsur edukasi, seperti buku-buku pengetahuan dan fiksi, video, mainan, alat-alat musik, alat lukis, alat permainan aktif seperti bola kaki, bola basket lengkap dengan jaring, dan sebagainya. Dengan sarana edukasi tersebut, orang tua bisa melihat sejauh mana bakat si anak.

Setelah bakatnya ketahuan, orang tua bisa menyalurkan bakat si kecil lebih lanjut. Jika terlihat berbakat melukis, contohnya, orang tua bisa memasukkannya ke sanggar lukis khusus buat anak.

*catat lama yang saya copas di  : http://www.facebook.com/note.php?note_id=76139053461
gambar dari http://anakhiperaktif.com

Tidak semua anak berbakat punya perilaku layaknya anak-anak normal. Ada juga di antara mereka yang memiliki gangguan autisme dan...
El Nurien
Cahaya Akhwat


Setiap orang tua pasti ingin memiliki simpanan ataua jaminan untuk masa depan anak-anaknya. Entah itu berupa tabungan di bank, simpanan emas, rumah, tanah atau sejumlah omset lainnya.
Atas hal itu, mereka berusaha banting tulang dan peras kering, tanam investasi di sana sini, atau usaha apapun demi masa depan anak-anaknya. 

Hal ini dapat dimaklumi, bahkan terpuji karena setiap orang pasti menginginkan anaknya bahagia dan berkecukupan. Sayangnya, tidak sedikit orang tua bekerja habis-habisan sampai mengabaikan kewajiban yang lain atau melalaikan perintah Allah, seperti shalat. 

Kerja keras dengan mengabaikan kewajiban yang lain atau hak Allah, maka tidak akan ada keberkahan di dalamnya. Dan di antara ciri harta yang tidak berkah adalah terjadinya perebutan atau pertikaian atas harta tersebut. Terlepas berkah tidak suatu rezeki, satu hal yang harus kita sadari bahwa tidak ada jaminan keselamatan atas simpanan berupa materi. 

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Baqarah: 266)

Lihat Juga :

Mengajarkan Al-Qur'an Pada Anak Adalah Investasi Cerdas Bagi Orang Tua


Bukan bermaksud menafikan materi, akan tetapi, satu hal yang harus kita perhatikan adalah ketaatan kepada Allah, termasuk dalam mencari keduniawian. Tidak melanggar rambu-rambu yang sudah Allah tetapkan, juga tidak melalaikan kewajiban yang lain, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai seorang hamba. 

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Bahkan dengan iman dan amal shaleh (perbuatan yang bersesuaian dengan perintah Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), harta dan keluarga akan dilindungi oleh Allah subahanahu wa ta’ala. Hatta, harta yang telah tertimbun akan Allah pelihara sebagai simpanan yang akan dikeluarkan suatu saat nanti, pada saat yang tepat. In sya Allah.
Allahu a’lam


Setiap orang tua pasti ingin memiliki simpanan ataua jaminan untuk masa depan anak-anaknya. Entah itu berupa tabungan di bank, simpana...
El Nurien
Cahaya Akhwat



Jika kau Khadijah, anakmu akan seperti Fathimah. Jika dirimu Fathimah, anakmu akan seperti Hasan dan Husen.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lebih baik dari pada mereka sendiri. Hingga kadang, tidak sedikit orang tua menentukan harapan kepada anak melebihi kemampuannya. Tidak sedikit pula orang tua, yang menuntut anak ini dan itu, namun lupa berbenah diri.

Anak butuh tauladan yang baik. Anak butuh transfer akhlak. Anak butuh semangat dan dukungan, bukan tuntutan. Anak butuh arahan bukan dikte. Anak butuh pengertian, bukan diharap mengerti.

Khadijah dan Fathimah merupakan sosok tauladan yang sukses dalam mendidik anak-anaknya.

Fathimah adalah sosok wanita yang taat kepada Allah, patuh pada orang tua dan suami, menjalani kemiskinan dengan penuh keredhaan, dermawan dan sejuta pesona yang dimilikinya. Sebelum bermimpi punya anak seperti Fathimah, belajar lah banyak dari sosok Khadijah.

Khadijah merupakan sosok yang cerdas, pengusaha dan dermawan. Kekayaan yang melimpah, tidaklah membuat sombong, bahkan sangat menghargai kedudukan suaminya yang kekayaannya lebih jauh ke bawah dari dirinya.

Ia sangat menghargai apapun jalan yang ditempuh suaminya. Salah satu ketika suaminya Ingin berkhalwat di gua Hira, bahkan ia rela menempuh perjalanan yang jauh demi mengantar makanan untuk suaminya.

Ketika Islam telah datang, ia yang pertama menyambut. Ia selalu yang terdepan dalam membela usaha Rasulullah (Islam). Ia memberikan apa saja demi Islam dan kaum muslimin.

Tak pernah sedikit pun terpikir untuk menghentikan usaha suaminya, walaupun dicaci, diganggu, diboikot dan mengalami berbagai penderitaan.

Ketika menikah, ia memiliki emas yang banyak di atas nampan-nampan. Namun ketika meninggal, ia tidak memiliki apa-apa lagi. Semuanya ia korbankan demi Islam. Bahkan ketika hampir meninggal dunia, ia berkata kepada Rasulullah, "Andai tulang belulang ini dapat dijadikan jembatan untuk penyeberangan kaum muslimin, maka gunakanlah."


Ingin memiliki anak seperti Hasan dan Husen, belajar lah banyak dari sosok Fathimah.

Sebuah keharusan, kita berharap yang terbaik buat anak-anaknya, hanya saja janganlah lupa berbenah diri dan terus mendekati Allah swt.


“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-A’raf : 58)



Jika kau Khadijah, anakmu akan seperti Fathimah.  Jika dirimu Fathimah, anakmu akan seperti Hasan dan Husen. Setiap orang tua pa...
El Nurien
Cahaya Akhwat



Anak-anak memang cenderung imut, lucu, menggemaskan dan mengundang orang-orang untuk memandang, memanjakan atau menyentuhnya. Kita sebagai orang tua, kadang  tergiur memajang foto mereka di situs jejaring sosial. Hingga keimutan sang anak bisa dilihat oleh jutaan pasang manusia. Namun amankah tindakan itu?

Masih banyak perdebatan dalam permasalahan ini. Ada yang tidak mempermasalahkan, tapi sedikit juga memandang hal ini tidak aman.

Ketika foto di upload di situs pribadi kita, walaupun dengan privasi yang terbatas, namun tidak ada yang bisa mencegah, jika orang lain ingin men-save dan menshare foto tersebut. Hingga akhir foto tersebut terus menyebar di dunia maya, walaupun kita telah menghapus di situs pribadi atau bahkan di dokumen pribadi.

Sering kita lihat, foto anak-anak dijadikan foto profil dan tak masalah jika yang bersangkutan tidak menggunakannya untuk kepentingan yang merugikan. Namun, tidak sedikit yang menyalahgunakan dan melakukan tindakan yang merugikan orang lain seperti penipuan.

Selain itu, anak juga terancam kena penyakit ‘ain.
Penyakit ‘ain merupakan bahaya dari pandangan mata kekaguman atau dengki ketika seseorang berhadapan langsung dengan sasaran. 
“Pengaruh ‘ain itu benar-benar ada, seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, ‘ainlah yang dapat melakukannya.” (HR. Muslim)

Pandangan tajam merupakan panah-panah setan. Pandangan dengki akan meluncur cepat dan menyebabkan penyakit jika pandangan tajam tersebut mengenai sasaran. Pandangan kekaguman juga bisa menyebabkan penyakit, jika kekaguman tersebut tanpa dibarengi dengan memuji Allah.

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi :39)

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Ghafir : 64)

Tanda-tanda anak terkena penyakit ‘ain di antaranya adalah anak menangis tidak wajar tanpa sebab yang jelas seperti lapar, popok basah atau sakit. Kejang-kejang, tidak mau menyusu tanpa sebab yang jelas, fisik anak semakin kurus atau kondisi lainnya dengan tanpa sebab yang jelas.

Dari Aisyah, suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu beliau bersabda,“Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati  dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad).




Karena itu, berpikirlah dua kali sebelum memajang foto anak-anak  di blog, facebook, BB, Twitter, atau di situs jejaring sosial lainnya.  Bisa jadi, niat kita  hanya untuk mengabadikan kenangan malah digunakan untuk kepentingan yang tidak baik oleh orang lain.

So, semua itu terserah Anda. ^_^





Anak-anak memang cenderung imut, lucu, menggemaskan dan mengundang orang-orang untuk memandang, memanjakan atau menyentuhnya. Kita seb...
El Nurien
Cahaya Akhwat



 Akhir-akhir berita pemerkosaan terhadap remaja, bahkan anak bawah umur seakan-akan menjadi suguhan utama dalam media berita. Musibah yang sangat besar, tapi kenapa terlalu sering terjadi. Musibah yang sangat besar bagi orang tua remaja itu, dan sebenarnya juga merupakan musibah besar bagi Indonesia. Sungguh, prilaku seperti itu  sudah sangat merisaukan masa depan Indonesia.
Lalu bagaimana dengan masa depan anak kita? Di tahun 2016 sudah begini, bagaimana 5 tahun mendatang, 10 tahun atau 15 tahun di saat bocah-bocah kita sudah menjadi remaja, beranjak dewasa. Di saat itu mungkin jaman kerusakan-rusakan ada di mana-mana. Sanggupkah anak-anak kita menghadapi semuanya?
 Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya….”(Q.s. Ali Imran : 37)
Ayat ini, merupakan sebuah titik terang buat kita juga sebagai orang tua.
Maryam mempunyai seorang ibu yang shaleh, yang mempunyai cita-cita menjadikan anaknya hanya mengabdi kepada Allah. Hanyalah seorang ibu salehah yang mempunyai pemikiran ingin mewakafkan anaknya kepada agama.
Karena ketaqwaan dan niat yang mulia, maka Allah menerima niat mulia ibu Maryam. Mengaruniakan kepada Maryam dengan pendidikan yang sangat, terutama dengan meletakkan Maryam dalam lingkungan yang sangat baik. Dalam lingkungan dan pemeliharaan seorang nabiyullah, yaitu Zakariya ‘alaihis salam.
Mungkin akan terbersit dalam benak kita, bukankah kita bisa mendidiknya dengan baik dan tinggal di lingkungan yang baik?
Namun sadarilah, segala sesuatu adalah dari Allah Subhanahu wata’la. Dan Allah selalu menolong orang-orang saleh.
Semakin dekat hubungan orangtua dengan Allah, maka semakin mudah pula lah pertolongan Allah dalam pemeliharaan anak-anaknya.
Di sisi lain, jika Allah berkehendak diletakkan di lingkungan yang baik pun masih saja ada masalah. Contohnya; seseorang meletakkan anaknya di pondok pesantren. Adakah jaminan anaknya akan baik-baik saja? 
Tidak ada jaminan. Bagi mereka yang pernah di pondok, pasti pernah mendengar kasus pencurian, kenakalan, kelanggaran peraturan pondok, bahkan yang sangat parah adalah cinta sesama jenis.
Kita memang telah menempatkan ditempat yang tepat, tapi kita tidak tau, bagaimana sikap anak di sana dan siapa saja temannya? Kalau bukan perlindungan dari Allah, mungkin saja anak-anak kita berteman dengan seseorang yang buruk perangainya. Sehingga anak kita tertular keburukannya. Kalau bukan pertolongan dari Allah, anak kita bisa saja bermalas-malasan dan melakukan perbuatan yang sangat jauh dari harapan orang tua.
Beberapa survei orang tua yang mempunyai anak-anak di pondok mengatakan; memang amalan orang tua sangat berpengaruh kepada anak-anaknya. Jika orang tuanya kuat amalan salehnya, maka anak-anak pun semangat belajar dan berupaya menjadi anak saleh, walaupun mereka tidak melihat. Mungkin ini dikarenakan kontak batin. 

Terutama ibunya. Ismail menjadi sosok yang mengagumkan, karena memiliki ibu yang luar biasa tabah dan shaleh. Walaupun, ia tumbuh berkembang tanpa adanya sosok ayah di sampingnya. 
Intinya, semuanya kembali kepada kita. Sejauh mana ketaqwaan kita, sehingga anak-anak pun mendapat contoh yang baik di dalam rumah. Jika anak-anaknya di pondok tingkatkan amal saleh, semoga Allah selalu melindungi dan memudahkan langkah mereka. Jangan sampai anaknya berjuang di sana, di sini ibunya asik nonton televise atau bersosmed ria.
Ketaqwaan akan mendatangkan pertolongan dan perlindungan Allah kepada mereka. 
Ketaqwaan akan melembutkan hati untuk menemani hari-hari mereka.
Ketaqwaan akan menguatkan kita.
Ketaqwaan akan terus membimbing kita dalam meniti keredaan Allah bersama mereka. .


  Akhir-akhir berita pemerkosaan terhadap remaja, bahkan anak bawah umur seakan-akan menjadi suguhan utama dalam media berita. Musibah yang ...
El Nurien