Menu
Results for "Al-Qur'an"
Cahaya Akhwat

 


Kapan azab itu Datang? 



Di dalam berita, entah artikel atau video memuat tentang bencana, sering kita temui komentar, "ini azab" atau kalimat lain yang serupa. 


Semudah itu mereka bilang azab? Lalu kalimat itu ditujukan kepada siapa? Kepada dirinya sendiri atau orang lain? Jika untuk dirinya sendiri, cukup simpan dalam hati, lalu renungkan baik-baik. Jika itu untuk orang lain, apakah pantas untuk diucapkan? 


Siapa kita, hingga berani memvonis itu azab? 


Fir'aun la'natullah alaihi, manusia yang berani mengaku tuhan, ketika tubuhnya diabadikan, bukan untuk dicerca tapi untuk dijadikan pelajaran. 


___"Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami." (QS. Yunus: 92) 


Kita tidak bisa memvonis azab dari besarnya bencana, banyaknya korban, dan kerugian yang diderita. Bahkan azab itu bisa berupa kesenangan yang membuai atau kesibukan yang mencekik. 


___"Maka janganlah harta dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan mati dalam keadaan kafir." (QS. At-Taubah :55)


Harta yang melimpah, prestasi yang memukau, jabatan yang menjanjikan, anak-anak cantik dan cerdas,  income terus mengalir dan berbagai kenikmatan yang membuat orang-orang iri. Padahal, mungkin saja azab memegang kendali di belakangnya, tanpa kita ketahui. 


Pikiran dan raga mereka disibukkan mengurus harta, jabatan dan anak-anak. Permasalahan demi permasalahan muncul bertubi-tubi, entah internal atau eksternal, membuat mereka semakin merasa tercekik. Ditambah lagi sifat tidak pernah puas, ketakutan kehilangan, tuntutan kebutuhan dan gaya hidup semakin tinggi, membuat mereka semakin terseret, sulit untuk kembali, lalu tiba-tiba kematian menjemput tanpa sempat bertaubat. 


Sebaliknya, musibah atau bencana bisa jadi bentuk kasih sayang Allah. Dengan bencana itu, Allah ingin mengingatkan, kaffarah dosa atau menaikkan derajat seseorang atau suatu kaum. 


Kadang, semakin tinggi ketakwaan seseorang, peringatan datang semakin cepat dan semakin besar.


Pernah lihat status _semoga tidak salah_, almarhum syeikh Ali Jaber bercerita bahwa, biasanya beliau membiasakan tilawah 3 juzz tiap pagi. Tetapi pada hari penusukan, kebetulan pagi itu beliau tilawah tidak lengkap 3 juzz. 


Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu Anha terkena fitnah besar_kalau mau mencari kambing hitam_ saat itu beliau hanya lupa minta izin pada suaminya, keluar dari sekedupnya untuk buang hajat. 


Padahal dalam keseharian kita mungkin setiap hari keluar rumah tanpa minta izin pada suami dan tidak terjadi apa-apa. 


Nabi Yunus 'alaihis salam harus mendekam di perut paus karena tak mampu lagi menahan kesabaran atas perlakuan kaumnya. 


Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin cepat dan besar peringatan yang datang. Karena, pada diri mereka tertumpu harapan dan tanggung jawab yang besar. 


__"Wahai istri-istri Nabi! Barang siapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipat-gandakan DUA KALI LIPAT kepadanya. Dan yang demikian itu, mudah bagi Allah." (QS. Al-Ahzab: 30)


Sebagai catatan, musibah berupa sebuah peringatan  atau dengan tujuan positif lainnya pada seseorang atau individu hanyalah menimpa pelakunya saja, tidak merugikan orang lain, kecuali ada maksud tujuan tertentu, seperti kasus Ummul mukminin untuk menguji sejauh mana kepercayaan kaum muslimin saat itu. 


Lalu bagaimana mengenali suatu bencana  itu azab? Kapan munculnya? Hanya Allah yang tahu secara detailnya.


Jika  kita menengok kepada sejarah yang diceritakan Al-Qur'an, kita akan menemukan beberapa petunjuk penyebab turunnya azab. Fir'aun karena kejaliman, sombong sampai mengaku tuhan. Qarun, si kaya raya yang sombong dan tidak tahu terima kasih,   tenggelam ke bumi beserta hartanya. Kaum Syuaib diazab dengan gempa karena kebiasaan curang dalam perdagangan. Kaum Luth ditimpa hujan batu karena perbuatan amoral. 


Dua perbuatan yang juga mendatangkan murka Allah, yaitu kebiasaan riba dan jalim terhadap orang beriman.  


___"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya…"(QS. Al-Baqarah: 278-279)


___"Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman)..." (QS.Al-Baqarah:257)


Namun jika dikaji lebih dalam lagi, perbuatan-perbuatan buruk tersebut tidak serta merta Allah turunkan azab. Azab turun setelah terjadi karena dua hal. 


_ PERTAMA


JIKA masyarakat mengabaikan seruan #da'i, menentang, bahkan berani menantang.


___"Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka...."(QS. At-Anfal: 33)


Secara harfiah, di ayat ini memang ditujukan kepada Rasulullah. Azab tidak akan turun selama ada Rasulullah. Tetapi Rasul diutus dengan tujuan menyampaikan risalah agama.  


Jadi secara tersirat, azab akan turun bila kaumnya mengabaikan, menentang bahkan menjalimi da'i hanya karena dia menyampaikan kebenaran atau risalah agama. 


__"Mereka mendustakannya (Syuaib), maka mereka ditimpa gempa yang dahsyat, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (QS. Al-Ankabut : 37)


___"Maka tidak ada jawaban kaumnya (Ibrahim), selain mengatakan, 'Bunuhlah atau bakarlah dia,' …" (QS Al-Ankabut : 24)


Jadi berhati-hatilah terhadap seseorang yang mengajak kepada ajaran agama! Berhati-hatilah kepada seseorang yang meski hanya mengajakmu shalat. 


Dalam tubuh, da'i seperti tulang punggung bagi umat. Sebagai tubuh, badan tidak bisa berdiri tegak tanpa adanya da'i. Begitu juga umat, agama tidak dapat berdiri tegak, tidak berdaya tanpa adanya seorang da'i. 


Dari sini kita memahami, mengapa da'i betapa pentingnya di sisi Allah. Di sisi lain, musuh-musuh Islami, bahkan pemerintahan di negeri sendiri mengincar da'i dan ulama.  Jika da'i roboh, jangan harap Islam dapat berdiri tegak.


_KEDUA


Jika da'i melupakan tugasnya dan masyarakat awam sudah tidak mau saling mengingatkan. 


___"Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am : 44)  


Saat itu manusia sudah tidak peduli masalah agama bahkan moral orang lain, mengingatkan disebut ikut campur, tidak peduli lagi dengan kemaslahatan orang lain, kenyang sendiri, sibuk menyusun mimpi dan rencana, sibuk urusan duniawi, lalu sekonyong-konyong datang musibah menghancurkan segalanya. Dapat dibayangkan bagaimana rasanya, kehilangan di saat harapan membumbung tinggi. Terpuruk. Ditambah lagi, akses bantuan seperti tertutup. Situasi seperti ini yang disinggung di ujung ayat, "terdiam putus asa."


Musibah yang dialami Kalimantan, masih jauh lebih baik, karena orang-orang masih peduli dan akses-akses bantuan masih terbuka. 


Semoga Allah melindungi kita dari pedihnya azab. 


Mungkin muncul pertanyaan, 'mengapa sedikit-sedikit selalu disangkutpautkan dengan azab? Bukankah bencana itu akibat olah tangan manusia? Pengerukan tambah, penggundulan hutan, buang sampah sembarangan, tata kota yang serampangan, dan bermacam penyebab lainnya.


Di sisi lain ada pula yang berpendapat, bencana itu suatu hal mesti terjadi dan tidak bisa dihindari karena bumi ini sudah tua, ada atau tidaknya olah buruk manusia. 


Semuanya tidak salah, tapi bukan berarti sepenuhnya benar.


Kerapuhan bumi ini dan akibat olah buruk manusia dapat ditopang dengan takwa.

 

___"Dan sekiranya penduduk negeri BERIMAN dan BERTAKWA, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka BERKAH dari langit dan bumi, ...



Sayangnya kebanyakan manusia membelakangi ajaran agama, lebih buruknya tertawa dalam kemaksiatan. Tidak berimbang dengan mereka yang masih berusaha berpegang teguh pada agama. Sehingga hasilnya, imbas, atau akibat diserahkan tergantung perbuatan manusia.  Allah berlepas diri.


__… tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah MEREKA KERJAKAN." (QS. Al-A'raf: 96)


Mungkin ada yang berpaham, bukankah penggalan ayat itu untuk orang kafir. Tak sepenuhnya salah. Akan tetapi, orang yang tak peduli halal haram, tak peduli bahwa ada balasan setiap perbuatan, bukankah itu termasuk mendustakan janji-janji agama? 


Seandainya mereka peduli dengan hisab di akhirat, mereka tidak akan mengeruk bumi dengan rakusnya, padahal tahu semua itu akan berdampak buruk untuk orang banyak. 


Lalu setelah semua terjadi, apakah kita hanya berdiam dan menyalahkan mereka? 


Ada beberapa yang harus kita lakukan.


Pertama: memohon ampun. Sesuai di ujung dari ayat di atas. .


___".... Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan." (Qs. Al-Anfal: 33)


Mungkin terbersit, bukankah yang harus beristighfar itu mereka-mereka yang berbuat kerusakan? 


Saya pertegas, dapatkah kita mengharapkan ucapan Istighfar kepada mereka yang terlena? Yang tidak peduli tindakannya akan merugikan orang lain. Jangankan beristighfar, merasa bersalah pun tidak.


Maka istighfar kita lah yang mengimbangi untuk kelangsungan kehidupan di bumi. Memohon ampun atas segala kesalahan kita dan kesalahan kaum muslimin lainnya. 


___"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu." (QS. Muhammad: 49)


Selain itu, tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan dan dosa.


Kedua: dakwah ilallah atau dakwah kepada Allah. Bukan kepada manhaz atau golongan tertentu, meski berpayungkan Islam.


Dakwah ilallah,  salah satu cara sangat ampuh untuk mencegah kebatilan. Misalnya, ketika kita mengajak shalat, secara langsung kita mengalihkan perhatiannya kepada kemaksiatan. Lebih ampuh daripada langsung membombardir tempat-tempat kemaksiatan.


Catatan, kita dakwah hanyalah untuk menunaikan tugas kita sebagai kaum muslimin, adapun bagaimana responi mereka, itu urusan Allah. Hidayah di tangan Allah, tapi Allah berjanji akan memperbaiki keadaan jika kita tunaikan dakwah. 


___"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (Qaulan sadida).


Selain itu, Allah sudah berjanji, jika kita mengajak kepada Allah, Allah akan perbaiki amal-amal kita dan dosa-dosa akan diampuni


___"niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung."


Qaulan sadida adalah kalimat dakwah ila llah. 


Ketiga: Setidaknya doakan mereka. 


Dalam hal ini kita sudah seharusnya beristighfar karena tidak mampu dakwah kepada mereka. Tidak mampu melakukan upaya untuk mencegah mereka berbuat kerusakan. 


Setidaknya doakan mereka sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihi salam mendoakan kaumnya. 


___"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)


Berdoalah, agar Allah mengirim da'i-da'inya di pertambangan, perusahaan-perusahaan yang membuka lahan secara besar-besaran, pemerintahan, bahkan kepada mereka yang begitu mudah memberikan tanda tangan, tak peduli dengan kemaslahatan rakyat. 



Jika mampu melayangkan seribu protes di medsos, sisakan 900 untuk istighfar dan doa agar Allah mengirim da'i untuk mereka. Bahkan, meminta kepada Allah, agar kita dipilih sebagai da'i-Nya. 

.

Terlepas apakah janji Allah untuk seorang da'i, terlepas bagaimana kah perlakuan mereka kepada da'i, namun memikirkan jika kita diberi kemampuan untuk kelangsungan agama Allah, muncul bahagia yang sulit diukur dengan kata-kata.



Saat di jalan dakwah, kadang terbersit menginginkan sesuatu, lalu Allah kabulkan, tiba-tiba timbul rasa penyesalan, mengapa saat itu tidak digunakan saat untuk mendoakan umat. Sesaat mendoakan umat, rasanya sesaat itu lebih berarti daripada panjangnya usia kita di muka bumi ini. 


Sakit di dunia dakwah, rasanya menjadi belum apa-apanya, jika mengingat Allah memilih kita saat itu. 


Allahu a'lam. Semoga Allah mengampuni saya dan sahabat. Semoga Allah memilih kita dalam dunia dakwah. 





  Kapan azab itu Datang?  Di dalam berita, entah artikel atau video memuat tentang bencana, sering kita temui komentar, "ini azab"...
El Nurien
Cahaya Akhwat

 




Penyebab Musibah dan Solusi menurut Al-Qur'an


Ah, sebenarnya hati ini merasa tidak nyaman berargumen dengan Al-Qur'an dalam situasi seperti ini. Seperti kata orang, ada saatnya seseorang itu perlu PEMASOKAN bukan sekadar MASUKAN. Sayangnya yang kumiliki hanyalah pemahaman Al-Qur'an dengan sangat terbatas. Itu pun sebenarnya lebih tepatnya ditujukan untuk diri sendiri.



___"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Al-Ankabut : 41)



Kalimantan Selatan dilanda musibah banjir. Tentu saja menimbulkan duka dan banyak kerugian. Alhamdulillah, banyak yang berinisiatif saling membantu dan bergotong royong. Dan tidak sedikit pula saling menyalahkan. Menyalahkan para pejabat, para pengeruk tambang, para penebang hutan, yang pada intinya menyalahkan pembuat kerusakan demi memenuhi hasrat keserakahan. Dan tidak sedikit pula yang menyinggung ayat di atas. 


Menurut diri pribadi ayat ini tidak bisa dijadikan untuk menuntut keadilan. Mengapa? Mari kita runut satu persatu. 


Pertama ini memang sudah kehendak Allah. 


___"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS.Alhadiid : 22)


Untuk apa? Pasti ada hikmahnya. 


___"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri…." (QS. Alhadiid : 23) 


___"Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih." (QS. Luqman : 31)


Supaya kita tidak terlalu bangga dengan apa yang dimiliki dan larut dalam kesedihan karena ada pada saat akan kembali pada Allah. 


Di surah Luqman menjelaskan untuk memfilter kualitas keimanan manusia. Ketika musibah datang, satu-satunya yang bisa dipanggil hanyalah Allah. Tetapi ketika musibah berlalu, barulah ketahuan, mana orang yang bersyukur dan yang tidak tahu terima kasih. 


Oke. Di dunia ini ada sebab musabab. Ada akibat, pasti ada sebab. Barulah kita telusuri ayat dari surah Rum tersebut. 


___"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,.."


Tangan manusia. Jika mau diglobalkan lagi, bukan hanya pengerukan tambang, penebangan pohon, membuang sampah sembarangan atau apa sifatnya secara kasat mata merusak alam. Melainkan juga, kegiatan lainnya yang dilakukan anggota tubuh, seperti men-share hal batil, komen negatif di dunia maya, memukul, mencuri, atau apapun yang dilakukan tangan. 


Lebih luasnya lagi, dilakukan anggota tubuh seperti mengumpat, mencela, menggosip, curang atau berbagai tindakan negatif lainnya. 


Muncul pertanyaan, tindakan negatif di atas apa hubungannya dengan alam? 


Mungkin sahabat pernah dengar, kisah Siti Aisyah R.anha yang menyebut madunya begini dan begini. Lalu Rasulullah Saw berucap, "ucapanmu itu jika dicelup ke lautan, lautan akan keruh." 


Hanya beberapa kalimat mampu mengeruhkan lautan, bagaimanakah lagi, dengan hari-hari bergosip, entah di dunia nyata atau Maya. 


Hal lainnya, pasti kita tahu, bahwa air yang dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an atau shalawat, mujarab untuk menyembuhkan penyakit. 


Sebagaimana kalimat buruk bisa mengeruhkan lautan, kalimat baik pun bisa memunculkan partikel-partikel positif atau gelombang-gelombang positif kepada alam. 


Jadi rusaknya alam ini, mungkin saja kita punya handil di dalamnya. 


Sifat memanipulasi yang dilakukan kaum Syuaib telah  mendatangkan bencana gempa. 


___"Mereka mendustakannya (Syuaib), maka mereka ditimpa gempa yang dahsyat, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (QS. Al-Ankabut: 37)


Dan sekarang penomena itu telah terlalu sering kita lalui. 


Bukan maksud membela mereka serakah tanpa memikirkan kelangsungan hidup manusia, tapi untuk mengingatkan agar kita setiap individu saling introspeksi diri.  Sesuai dengan ujung ayat


___"..agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."


Jadi ayat itu untuk diri kita dan semua orang. 


Bencana sudah terjadi. Lalu tindakan apa yang seharusnya dilakukan?


#Istighfar atau pengakuan atas kesalahan diri. 


Nabi Yunus dikeluarkan dari perut setelah pengakuan yang beliau ucapkan, lalu memohon kemurahan Allah agar mengampuninya. 


___"Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiya : 87) 


Sebaiknya sama-sama beristighfar. Istighfar akan membuka pertolongan Allah dan hati menjadi lebih ikhlas.


#Bantuan materi, tenaga dan pikiran. 


___"Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia…" (QS. Al-Maidah : 32)


#Jangan lupa dorongan semangat. 


___"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah #RAHMAT kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami #DALAM urusan kami.” (QS. Al-Kahfi : 10)


Bantuan materi dan tenaga tentu akan membuat mereka senang, terhibur dan lapang. Hanya saja, jangan lupa untuk memotivasi mereka dan jangan saling menyalahkan. 


Menyalahkan ke pihak tertentu hanyalah membuat memantik amarah pihak korban, yang akhirnya perasaan mereka semakin buruk.



ربّنا اننا من لدنك رحمه و هيّء لنا من امرنا رشدا 

Rabbanaa aatinaa min ladunka Rahmah, wa hayyi,lanaa min amrinaa rasyadaa


 “Ya Tuhan kami. Berikanlah #RAHMAT kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami #DALAM urusan kami.” (Qs. Al-Kahfi)


Amalkan doa ini ketika menghadapi suatu permasalahan atau musibah. In sya Allah, Allah akan beri kelapangan hati dan kemudahan dalam urusan. 


Dan kita yang Allah selamatkan pun sebaiknya mengamalkan doa ini. Karena doa ini memiliki dhamir kami. 


Mereka adalah bagian dari kita/kami dan kita bagian dari mereka. 


Percayalah satu kali doa ini yang kita ucapkan, gelombangnya lebih kuat dari kalimat protes yang kita layangkan kepada pihak manapun. 


Terakhir. 

Meski kita telah mempertimbangkan segala hal, jika Allah berkehendak lain, maka terjadilah. 


Laa haulaa wa laa quwwata Illa Billah. 


Namun percayalah, jika memang kita hanyalah korban dan baik di mata Allah, Allah akan ganti dan berikan dengan yang lebih sebagaimana Allah turunkan kaum Nuh yang beriman di atas bumi yang berkah. 


___"Dan berdoalah, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (QS. Al-Mu'minuun : 29)


Semoga Allah beri kita pemimpin yang benar-benar memikirkan kemaslahatan rakyat. 


Semoga, kesulitan dan kerugian yang kita alami menjadi sebagai kaffarat dosa, membuat kita semakin bijak dalam berpikir dan bertindak, serta menjadi asbab hidayah. 


Aamiin.. 


  Penyebab Musibah dan Solusi menurut Al-Qur'an Ah, sebenarnya hati ini merasa tidak nyaman berargumen dengan Al-Qur'an dalam situas...
El Nurien
Cahaya Akhwat

 


Pagi ini pikiranku tertuju pada ayat.  


"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut : 45)


Shalat fardhu lima kali sehari diwajibkan dalam agama. Sedang Al-Qur'an dalam hukum fikih tidak diwajibkan sebagaimana shalat lima waktu,  tapi mengapa kalimat perintahnya (-bacalah) disejajarkan dengan shalat, malah disebutkan di awal ayat? Sementara di ayat lain, zakat disejajarkan dengan shalat, karena memang zakat juga salah satu pilar

Islam. Allahu a'lam.  


Namun jika dieksplorasi lebih dalam lagi, kita akan menemukan titik terang. 


Diibaratkan tubuh (khususnya Indonesia) memerlukan nutrisi dari empat sehat yang terdiri dari nasi/sumber energi, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan. Nasi itu shalat, sedang tiganya itu Al-Qur'an. 


Shalat adalah sumber energi rohani untuk beraktivitas menunaikan perintah-perintah lainnya. Sedang Al-Qur'an, untuk menjaga kesehatan agar rohani tetapi sehat dan energik. 


Tak usah panjang lebar di sini betapa pentingnya tiga sehat itu, salah satunya sayuran. Meski tidak menyebabkan kematian jika dalam sebulan saja tidak mengonsumsi sayuran, namun dalam kesehatan tentu saja akan berdampak buruk. Khususnya untuk pencernaan, yang lama kelamaan akan memunculkan penyakit lainnya. 


Mungkin seperti itulah juga shalat tanpa diimbangi dengan membaca Al-Qur'an akan berdampak negatif pada kesehatan iman kita. Sedikit dipahami, mengapa diwajibkan membaca surah Fatihah dalam shalat. Sayangnya, kadang kita membacanya dalam keadaan lalai, hingga tidak memberi efek pada rohani. Karena itu sangat ditekankan membaca Al-Qur'an di luar shalat. 


Lalu, bagaimana juga jika dalam sebulan kita makan nasi melulu, tanpa lauk pauk? Ah membayangkan saja, rasanya membosankan. Sekali dua kali mungkin masih bisa hanya makan nasi, tapi sehari dua, perlahan akan mulai bosan dan semangat kita pun melemah. 


Disadari atau tidak, tanpa Al-Qur'an dalam keseharian, semangat menunaikan shalat akan menurun. Malas, ogah-ogahan, buruknya jadi asal-asalan. Yang nantinya berdampak buruk pada gairah agama, seperti menuntut ilmu, zikir dan amalan Sunnah lainnya.


"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar." 


Badan yang sehat akan memiliki kekebalan tubuh yang kuat untuk melindungi dari infeksi bakteri, virus, atau dari berbagai sumber penyakit lainnya. Selain itu, jasmani yang sehat memiliki kemampuan penyembuhan dan pemulihan diri yang cepat ketika terlanjur terinfeksi. Dari sini dapat kita mengerti mengapa shalat itu mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Yah tentu, shalat yang diimbangi dengan bacaan Al-Qur'an, yang nanti akan menumbuhkan semangat ilmu dan zikir (pengamalan dari ilmu). Dari ilmu dan zikir kita akan tahu apa saja perintah dan larangan agama. 


Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar. 


Benar. Shalat adalah sesuatu yang besar. Shalat adalah sumber energi bagi keimanan.


Shalat yang khusyuk dan tertib akan membuat rohani kita sehat dan kuat. Rohani yang sehat dan kuat akan mempunyai perlindungan diri yang kuat

dari berbagai penyakit hati dan tindakan, serta memiliki sensitivitas yang tinggi sehingga cepat sadar dan bertaubat jika terlanjur melakukan kesalahan. 


Dari sini, sedikit kita dapat memahami mengapa perintah membaca Al-Qur'an disejajarkan dengan perintah shalat. Meski membaca Al-Qur'an tidak wajib dalam hukum fikih, tetapi fungsinya sangat diperlukan untuk membentuk shalat yang khusyuk dan tertib sesuai contoh Rasulullah Saw. 


Allahu a'lam. 


Note.

Apa saja yang kushare mengenai ayat-ayat Al-Qur'an, itu hanyalah eksplorasi ayat-ayat Al-Qur'an, bukan tafsir. Karena Tafsir memerlukan pendapat ulama yang dikenali kredibilitasnya. 


Jadi hasil eksplorasi-ku bisa jadi salah. Jadi silakan diingatkan kalau memang ada kesalahan. Jika tafsir, biasanya langsung saja dikutip sumbernya.


Satu hal lagi, eksplorasi bukan pula cocokologi. Mencocok-cocokkan dengan sebuah situasi, tapi melenceng dari makna yang telah dijelaskan oleh beberapa ulama terdahulu. 


Afwan. Semoga bermanfaat. 


Semoga Allah angkat musibah menimpa bumi Kal Sel. Allah beri ketabahan, kemudahan dan menjadi asbab hidayah. Aamiin. 

  Pagi ini pikiranku tertuju pada ayat.   "Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sh...
El Nurien
Cahaya Akhwat



 

“Ahlullah turun maqam.” Begitulah suatu hari aku mendapatkan komentar teman di salah tulisan fiksiku. Saat itu aku tak ambil pusing karena saat menghafal Al-Qur’an tak pernah berpikir bagaimana diriku di mata Allah. Memang ada sebuah riwayat menjelaskan bahwa orang yang hafal Al-Qur’an adalah ahlullah,

“Sesungguhnya Allah memiliki orang khusus (Ahliyyin) dari kalangan manusia. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah mereka?" Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlu Al-Qur’an, Ahlullah dan orang khusus-Nya.” Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Tetapi aku tak pernah memikirkan hal itu. Aku menghafal karena Al-Qur'an milik Allah dan aku ingin memilikinya.

Belakangan komentar itu terngiang-ngiang di benakku. Terlebih lagi setelah dia meninggal dunia. Kalimat itu seakan menjadi wasiat bagiku. Dan belakangan aku menyadari bahwa itu bukan sekadar  status tapi sebuah tanggung jawab.

Membayangkannya saja rasanya tak pantas, apalagi berbangga diri menyebut sebagai ahlullah. Namun ketika kita mengambil sebuah jalan atau sebuah pencapaian, mau tak mau kita harus memikul tanggung jawab dan kepantasan. Seorang laki-laki mungkin adakalanya merasa tak pantas atau mampu menjadi seorang ayah, tetapi jika ia menginginkan seorang istri yang mendampinginya, maka mau tak mau ia harus mempersiapkan dirinya menjadi seorang ayah, baik secara kedewasaan, fisik mau pun finansial.

Begitu juga ketika memutuskan menghafal Al-Qur’an, terlepas apakah kita pantas menjadi ahlullah, mau tak mau kita harus memantaskan diri menjadi ahlullah. Beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai “ahlullah.”

1.      Memantaskan diri.

Ahklak mulia tentu sangat harus dijaga. Terlebih menjadi hafiz kadang menjadi panutan bagi masyarakat. Satu orang hafiz berkelakuan buruk, bisa memengaruhi pandangan masyarakat tehadap hafiz lainnya. Di sisi lain, kadang ada yang selalu membenarkan apa yang dilakukan seorang hafiz (na’udzu billah min dza lik).

 

2.      Mewajibkan diri selalu menuntut ilmu

Jangan sampai sebagai seorang hafiz, tetapi sangat awam dalam hal agama. Memang kita tidak bisa menguasai seluruh ilmu, bahkan kadang seorang ulama pun memiliki keahlian di bidang tertentu, misalnya ahli fikih, ahli tasauf, dan lainnya sebagai. Setidaknya seorang hafiz, menghiasi tindak tanduknya sesuai dengan sunnah Rasulullah.

3.      Menghindari hal-hal yang sia-sia

Fitrah manusia suka bermain atau bersenang-senang sesuai dengan kecendrungan atau kebiasaan masing-masing. Di sinilah tantangan seorang hafiz Qur’an, setidaknya ia berusaha mengoptimalkan membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu sehingga kesempatan untuk berbuat sia-sia semakin sedikit.

4.      Perhatikan siapa yang kausukai.

Manusia memiliki kecendrungan menggandrungi sesuatu yang disukai, baik itu berupa hiburan atau tokoh inspirasi sehingga kadang memiliki figure yang diidolakan.  Tak masalah menyukai siapa, hanya saja siapa mereka. Tak pantas ahlullah mengidolakan pengajak kebatilan, terlebih lagi jika mereka tidak menyembah Allah.

5.      Berjuang menjaga kelangsungan hidupnya Al-Qur’an di bumi

Sebagai keluarga, sudah selayaknya kita menjaga anggota keluarga lainnya misalnya seorang seorang ayah mencari nafkah, melindungi dari bahaya, menciptakan suasana nyaman di rumah juga memiliki pemikiran yang bijaksana. Begitulah juga seharusnya kita sebagai ahlullah, sudah seharusnya kita berusaha bagaimana Al-Qur’an selalu dibaca, dihafal juga diamalkan. Tentu semua itu memerlukan perhatian dan pengorbanan baik secara diri dan harta. Bagian ini yang sering luput dari perhatian seorang hafiz.

 

Kadang orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke pondok menghafal Al-Qur’an karena tingginya kedudukan hafiz Al-Qur’an di mata Allah dan masyarakat, membentengi diri dari dosa dan maksiat, agar langkah anak selalu sesuai petunjuk, pahala perjuangan anak yang terus mengalir kepada orang tua, seorang hafiz yang memakaikan mahkota kepada orangtuanya di ahirat kelak, atau mungkin agar anak-anaknya dapat memberi syafaat di akhirat kelak, atau keuntungan kebaikan apa pun yang pada akhirnya hanyalah untuk dirinya dan keluarganya. Tidak salah dengan semua itu, hanya saja adakah yang berpikir bahwa anak-anaknya kelak akan menjadi penerus pembawa estafit untuk membumikan Al-Qur’an? Kelak anaknya menjadi mujahid yang senantiasa memperjuangkan hak Al-Qur’an? Menjadi seorang dai yang selalu mengajak umat mengamalkan Al-Qur’an?

Hampir semua hafiz ingin tinggal di lingkungan pondok, tahfiz atau lingkungan yang hidup roh Qur’annya, hanya saja kadang alasan itu ada untuk kepentingan pribadi, di antara agar senantiasa semangat membaca, dan mengamalkan, serta hafalannya terjaga. Atau demi melangsungkan penghidupan dengan hafalannya. Tak salah dengan semua itu, meski dengan tujuan materi karena juga tak baik seorang hafiz menjadi peminta-minta. Hanya saja, dari sekian apa yang telah kita lakukan, adakah berpikir bagaimana supaya pengamalan Al-Qur’an benar-benar hidup di bumi ini? Sejauh manakah usaha kita melindungi, mencintai, merawat selayaknya begitu juga perlakuan kita terhadap anggota keluarga kita?

Bersyukurlah jika Allah menempatkanmu di pondok-pondok tahfiz Al-Qur’an, tinggal membenahi niat. Semoga saja niat kita sudah benar. Namun jangan lupa untuk melihat dunia luar, jangan hanya melihat pada pondok saja. Berapa banyak di dunia ini yang belum bisa membaca Al-Qur’an apalagi menghafal? Lihatlah berapa banyak umat Islam yang masih berprilaku bertolakbelakang dengan  nilai luhur Al-Qur’an? Setidaknya angkatlah tangan, doakan mereka.

Lalu bagaimana dengan mereka yang jauh dari lingkungan pondok, seperti saya ini yang hanya sebagai ibu rumah tangga? Berpikirlah, pasti ada potensi kita untuk menjaga kelangsungan Al-Qur’an. Bagi mereka suka bergaul, sering-seringlah menyampaikan keindahan-keindahan atau keuntungan Al-Qur’an seperti kita mempromosikan barang. Jika bisa menulis, meski hanya menulis status di medsos, gunakan untuk menghidupkan suasana Al-Qur’an. Jika memiliki basic mengajar, ajarilah anak-anak juga anak-anak di sekitar membaca dan memahami Al-Qur’an. Jika mempunyai kelebihan harta, sisihkan harta kita untuk seseorang, badan atau yayasan dalam pengembangan Al-Qur’an. Hantarlah anak-anak ke tahfiz yang kelak menjadi pelita dengan cahaya Al-Qur’an. Didiklah anak-anak agar menjadi da’i yang selalu mengajak kepada pengamalan Al-Qur’an. Bawalah mereka jalan-jalan, perlihatkan kepada mereka, sudah berapa kemaksiatan di muka bumi ini, tanamkan kepedulian mereka terhadap agama umat ini. Setidaknya selalu berdoa agar Allah mendatangkan hidayah dan menghidupkan suasana Al-Qur’an, baik dari segi bacaan atau pengamalan.

Singkatnya pasti ada potensi bagi kita untuk menjaga dan merawat Al-Qur’an di bumi ini, semuanya tergantung pada kita. Apakah kita mau menaruh perhatian dan pengorbanan agar Islam hidup dalam diri kita, keluarga juga seluruh alam.


Siapa pun pantas menjadi Ahlullah, meski hafalannya tak bisa lebih dari juzz Amma, selama dia terus berusaha menghafal dan memantaskan diri.  

Sebaliknya, meski hafalannya sempurna, tapi tak peduli halal haram, apakah pantas disebut Ahlullah?


Semoga Allah memilih kita menjadi seorang da’i, mengaruniakan banyak amal shaleh,  melindungi dari harta dan perbuatan yang haram, serta pantas disebut Ahlullah. 

 

Al-Qur’an bagai matahari

Cahayanya mampu menembus dari timur ke barat

Maka sungguh zalim, jika hanya kau simpan di rumahmu

Lebih zalim lagi, jika mengabaikan cahaya ini demi materi

Adakah keegoisan melebihi dari pada ini?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  “Ahlullah turun maqam.” Begitulah suatu hari aku mendapatkan komentar teman di salah tulisan fiksiku. Saat itu aku tak ambil pusing ka...
El Nurien